Tips Membina Keluarga Sakinah Ala Islam

Tips membina keluarga sakinah ala Islam ::: Tujuan membangun keluarga adalah untuk meraih ketentraman dan kebahagiaan dengan menjalankan separuh agama ini. Kebanyakan orang membangun mahligai rumah tangga hanya berdasarkan cinta semata, tanp tahu akan kemanakah saat mahligai rumah tangga telah ditata. Lalu sebanyak itu pula yang runtuh lantaran tak mampu melakoninya dengan baik. Kebahagiaan yang mereka peroleh hanya seumur jagung, karena hanya memahami bahwa berumah tangga artinya tanpa perselisihan sama sekali, tak memahami berumah tangga bagaikan menyatukan sepasang sendok dan garpu dalam sebuah piring yang terkadang berbunyi nyaring. Dan tak abadilah mahligai hingga sama sama menjadi kaek - nenek apalagi hingga mereka bawa sampai menghadap Allah Ta'ala kelak.

Mengapa semua itu bisa terjadi, jika secara lahiriyah kebutuhan materi tak lagi masalah untuk  terpenuhi? Penyebabnya ternyata adalah terletak pada faktor keawaman untuk apa dan bagaimana sebuah pernikahan itu dibangun. Selama faktor tersebut tidaklah terarah dan dipahami dengan baik atau bahkan salah menafsirkannya, maka cita cita memperoleh kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga itu hanya sebatas mimpi belaka.

Sedikitnya terdapat tiga catatan penting yang patut diperhatikan oleh setiap orang yang mendamba rumah tangganya bertaburkan rasa tentram nan bahagia disepanjang hidupnya, antara lain sebagai berikut

keluarga sakinah mawaddah warrahmah

Membenahi Visi & Misi Keluarga

Setiap orang pasti memiliki tujuan tertentu dalam menjalankan tugas maupun pekerjaannya. Agar pekerjaan tersebut bisa memperoleh hasil yang maksimal, sudah seharusnya ia memiliki target serta runtutan pekerjaan yang terprogram juga terdefinisikan. Ibarat orang yang sedang membangun sebuah rumah, jauh jauh hari ia hendaknya memperhitungkan segala kebutuhan yang diperlukan, mulai dari market bangunan, kualitas material bahan bangunan yang akan dibelinya, menunjuk tukang yang menurutnya bisa diajak bekerja sama, hingga sampai pada kombinasi warna cat tembok yang dipadukan dengan jenis furnitur yang bakal menghias interior rumah jika sudah ramung nanti, semuanya itu hendak telah terdefinisi dengan pasti. Pendek kata semua pekerjaan harus tertata dan jelas dari awal hingga akhir, tanpa itu semua tujuan membangun rumah tidak akan pernah terwujud. Susunan program seperti itulah yang disebut dengan visi dan misi dalam membangun rumah idaman.

Visi keluarga adalah membangun keluarga sakinah, penuh cinta kasih dan sayang, sakinah penuh cinta kasih dan sayang. Sakinah berarti tentram. Sementara ketentraman itu bersumberkan dari bukan terletak pada materi, keelokan wajah ataupun tingginya pangkat derajat yang dimilikinya. Dan telah menjadi kodrat ilahiyah bahwasannya qalbu manusia pasti bakal merasakan kedamaian jika berada dijalur kebenaran. Dan karena memang kebenaranlah yang diridhai Allah azza wa jall. Demikianlah jika sumai istri yang sedang mantautkan dua hatinya dibawah naungan Islam, keduanya itu benar benar telah melakukan pembenahan dalam hal visi berumah tangga. Memahami visi adalah sebagai berikut
  1. memahami pula proses yang harus dijalani dalam mewujudkan sebuah rumah tangga, sebab disanalah dibangun sebuah pondasi kokoh yang diatasnya terdapat bangunan bernama rumah tangga
  2. Memahami pula bahwa dua insan yang disatukan dalam sebuah akad terucap dalam mitsaqon ghalidza, seolah arsy terguncang karena beratnya janji yang dibuat di depan Allah dengan disaksikan malaikat dan manusia, sebuah janji yang berisi ikatan yang setara dengan perjanjian yang diambil Allah  dengan para nabi
Sedangkan misi keluarga sakinah adalah membentuk sosok suami, istri dan anak anak yang berkepribadian Islami. Yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah yang benar. Mereka bersepakat untuk menjadikan ajaran nabi sebagai 'referensi' atau rujukan dalam setiap langkah dan tugas tugas rumah tangga mereka. Sebab keluarga dan rumah adalah yang pertama hadir dalam benak anak. Maka menghiasi rumah dengan sunnah sang nabi adalah keharusan sebagaimana yang direkam oleh Bukhori, ketika Ibnu Abbas masih berusia belasan, beliau menginap di rumah bibinya Maimunah binti Hrits. Malam itu beliau tidur setelah sholat berjamaah isya di masjid bersama Rasulullah. Pada saat rasulullah akan shalat malam maka dibangunkanlah Ibnu Abbas. Inilah sebuah teladan keindahan bagaimana rasulullah mementingkan seorang anak kecil untuk mendapatkan pengajaran ibadah.

Suami istri kendati memiliki tugas yang bervarian, namun mereka sama sama sedang mengemban amanah mulia, yang mereka petanggung jawabkan langsung kepada Allah azza wa jalla. Keberadaan suami menjadi 'nahkoda' dalam rumah tangga sama sama dijunjung tinggi oleh istri dan anak anaknya, pun demikian sang suami tersebut tidak lalu egois lantaran diposisikan sebagai imam, lantas bersikap otoriter. Seorang suami haruslah menyadari, saat seorang lelaki sah menjadi seorang suam dari seorang wanita, sebenarnya wanita tersebut berpindah menajdi tanggung jawab sang lelaki. Maka aku tanggung dosa dosa untuk mendidik si wanita dari ayah ibunya atas apa yang dilakukannya dari tidak mentutup aurat hingga meninggalkan shalat. Disinilah suami mempunyai tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan dan nafkah yang memadai lagi dibutuhkan bagi segenap anggota keluarganya. 

Sebagai pendamping suami, istri yang telah terdidik nilai nila Islam, juga akan mengerjakan tugas rumah tangga dengan hati lapang, tak ada rasa jenuh apalagi berniat ingin memberontak diluar rumah tangga dengan hati lapang, tak ada rasa jenuh apalagi berniat ingin memberontak menuntut kesetaraan tugas dengan sang suami diluar rumah. Dengan kebaikan pemahaman keislaman yang ia punyai,, sang istri memahami dengna benar bahwasannya perjuangan dalam memenuhi hajat kebutuha suami dan memberikan tarbiyah anak anaknya agar menjadi generasi yang meneladani nabi adalah peran mulia yang tak tergantikan. Dan akan disadarinya mengenmban amanah sebagai istri yang melayani suami dan mendidik anak adalah sebuah perjalanan indah yang sesuai dengna nilai nilai Islam, yang membawanya berlabuh pada kelembutan tiupan nafas terakhir, yang kan mengantarnya memetik buah buahan di kebun surga tanpa terasa teraniaya sedikitpun.

Keberadaan anak anak yang selalu tampil ceria namun selalu bersikap sopan penuh etika kepda kedua orang tuanya tentunya juga akan memacu semangat utnuk menunaikan tugas mulia mencetak kader rabbani.

Bercermin Kepada Keluarga Rasulullah 

Mencontoh dan meneladani kehidupan baginda nabi sallallahu alaihi wa sallam tentu bukan persoalan ibadah ritual semata. Kewajiban mencontoh itu mencakup seluruh aspek kehidupan beliau yang utuh sebagai sosok manusia yang hidup secara normal dalam masyarakat. Inilah wujud dasri persaksian kita bahwa nabi muhammad adalah rasulullah pembawa risalah Allah yang paripurna, rahmat dan petunjuk bagi selruuh alam. Beliau adalah seorang pribadi, suami, ayahy, pemimpin keluarga dan sekaligus pemimpin negara. Beliaulah satu satunya teladan yang komprehensif bagi semua manusia hingga hari kiamat.

Keluarga bagina nabi merupakan keluarga istimewa. Didalamnya menyatu secara sempurna antara fungsi internal dan eksternal sebuah keluarga, itulah keluarga figur sakinah, penuh kasih nan sayang. Beliau bersama segenap anggota keluarganya benar benar merasakan nikmatnya buah dari printah Allah SWT. Dari keluarga baginda Nabi yang istimewa tersebut, kiranya sudah selayaknya kita teladani tentang bagaimana cara menjadi suami, istri, anak anak bahkan pembantu yang baik itu, hingga melahirkan sinergi positif untuk menghantarkan ke suatu tujuan mulia. Yakni kebahagiaan dan kesejahteraan hakiki dambaan bersama.

Berbekal Ilmu Pengetahuan Seputar rumah Tangga

Problema rumah tangga yang kian sulit dibenahi itu biasanya bermula dari kurangnya pemahaman pihak pihak yang terkait terhadap permasalahan seputar rumah tangga, Ironisnya kian hari kita semakin banyak menyaksikan runtuhnya bangunan rumah tanga yang dibangun selama bertahun tahun akibat dari minimnya pemahaman cara mengatasi problema rumah tangga sesuai dengan standar hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Kenapa hal ini mesti terjadi? tak lain, karena masyarakat kita terlebih para penguasa negeri ini masih beranggapan bahwa pendidikan rumah tangga tak lebih dari masalah pribadi yang tak perlu penanganan intens dari sebuah institusi resmi seperti halnya kewajiban shalat, puasa dan lain lain. Paradigma yang jauh dari nalar sehat tersebut tentu sangat merugikan semua pihak, sebab hampir semua kebaikan & keburukan yang mendominasi kisah kehidupan anak manusia itu tak terlepasa dari latar belakang kondisi rumah tangga para pelakunya. Dan andai saja pendidikan rumah tangga ini benar benar diperlakukan secara adil selevel dengan pendidikan pengetahuan alam, kewarganegaraan, sains maupun IT (Informasi Teknologi) tentu hal ini cukup membantu terealisasinya ketenteraman di semua lini dan sektor kehidupan juga mengurangi beban berat yang dipikul pihak pemerintahan dalam membentuk negara yang aman, tanpa banyak problem & kecurangan didalamnya. Wallahu a'lam bisshawab.

Sumber : Majalah New Mafahim - Hai'ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah

0 comments

Post a Comment