Memahami Perbedaan Islam Ahlus Sunnah Dan Syiah الشيعة

Apa saja yang menjadi perbedaan prinsip faham antara Ahlussunnah dengan Syi'ah? mari kita lihat perbedaan kedua faham ini dalam bentuk tabel, mengingat geliat harakah Islam Syiah di Indonesia belakangan mulai menyeruak publik, walhasil pertikaian pun tidak dapat dihindari sebagaiamana kita mengenal Syiah sebagai aliran keras (Ekstrim).

Tabel perbedaan Sunni vs Syi'ah ini karuhun ambil dari sumber yang bisa dipertanggung jawabkan yaitu berasal dasri Majalah New Mafahim yang diterbitkan oleh para santri alumni Makkah bimbingan Al Alamah Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al-Hasani. Kini dalam meneybarkan faham ahlussunnah wal jama'ah para alumni terkumpul dalam sebuah wadah bernama Hai'ah As Shofwah Al-Malikiyyah

ahlus sunnah vs syiah

Ahlussunnah Wal Jamaah
Syiah الشيعة (Ithna Asyariah)
Keterangan
Rukun Islam ada 5 : Syahadat, Shalat, puasa, Zakat dan Hajj, Mengambil dari nash-nash qath'i (aksiomatis) al-Qur'an dan as-Sunnah as-sahihah
Rukun Islam ada 5 : Shalat, zakat, Puasa, Hji dan Wilayah (keimaman Ali dan 11 keturunannya. (Baca:al-Kafi, juz 18)

A-Qur'an dalam Mushaf Uthmani adalah kitab suci terakhir yang final. Tidak mengalami interpolasi seperti kitab-kitab pendahulunya (Zabur, Taurat dan Injil) dijaga oleh Allah (QS. Al-Hijr[15:9)
ApQur'an yang ada sekarang ini baru1/3 dari yang original. 2/3 masih di tangan Imam Mahdi. Karena al-quran yang dibawa Jibril kepada Muhammad itu 17.000 ayat (Baca: al-Kafi, juz 1 hlm. 634)
Tapi secara fisik al-Qur'an resmi Syiah seperti milik Sunni (Mushaf Uthmani, tapi Uthman dikecam dan dicerca, bahkan dimurtadkan)
Sahabat Nabi bertingkat tingkat : ada Muhajirin, Anshar, Fathu makkah dan pasca Fathu Makkah. Tentu saja kualitasnya berbeda-beda. Para sahabat nabi itu 'udul (adil) dan merupakan SDM pilihan yang benar dalam menjalankan agama selama berpredikat sebagai sahabat dalam pendidikan Nabi, tapi sebagai manusia biasa mereka bisa berbuat salah (tidak ma'shum seperti Nabi)
Para sahabat Nabi itu murtad, karena tidak mendukung imamah Ali bin Abi Thalib sebagai pngganti Nabi. Hanya ada 4 sahabat yang masih mukmin pendukung Ali: Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi, Miqdad bin al-Aswad dan Ammar bin Yasir. Sahabat adalah insan yang salah. Ali bin Abi Thalib dan 11 keturunannya ma'shum seperti Rasul
Ulama Syiah sering mengutip Hadith-hadith Sunni hanya untuk pembenaran keyakinannya saja
Yang disebut Hadith adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah, berupa ucapan, kelakuan dan sikap diam beliau saja satu-satunya. (Ini adalah definisi dalam ilmu Hadith yang sudah baku di kalangan Jumhur al-Ulama)
Yang disebut Hadith adalah (sedikit) sabda nabi, tetapi (banyak) perkataaan/perbuatan para imam (banyak mengutip "Hadith" Imam Ja'far ash-Shadiq (Baca: al-Kafi, juz I hlm. 53)
Hadith imam 12 identik nilainya dengan Hadith Rasulullah, bahkan sama dengan wahyu Allah (versi Al-Kafi)
Imamah bukanlah doktrin mutlak dan keharusan. Tetapi ini menyangkut kepentingan umat yang memberi hak umat untuk bermusyawarah guna menetapkan berdasarkan kemaslahatan orang banyak. tidak ada nash qth'i untuk imamah
Imamah adalah konsep kepemimpinan umat yang mutlak karena berdasarkan nash ilahi dan wasiat Nabi. Barang siapa yang mati tidak mengenal (berbaiat/mengimani) para imam 12, dianggap mati jahiliyah (kafir

Pengertian Ahl-al-Bayt itu adalah para istri Nabi. Ini adalah istilah a-Qur'an untuk menyebut para penghuni rumah/pendamping Nabi. (Lihat:QS. Al-Ahzab [33]:33). Adapun putra/putri Nabi Muhammad berdasarkan Hadith masuk dalam Ahl-Bayt ini, tentu sja sebagai keluarga rumah tangga Nabi
Pengeritan Ahl al-Bayt dikerucutkan hanya: Fathimah az-Zahra (putri Nabi), Ali bin Abi Thalib (sepupu dan menantu), serta Hasan dan Husain (kedua cucu Nabi). Para istri Nabi yang bergelar Ummahat al-Mu'minin (ibu kaum Mukminin) dieliminasi

Pertentangan antara Sayyidina Ali dengan Muawiyah adalah persoalan politik, bukanlah pertentangan antara mukmin dan kafir. Sebab Aqil, saudara kandung Ali sendiri, dalam konteks ini pro Muawiyah. Jika ini soal agama, tentu Ali angkat bicara secara serius.
Pertentangan Sayyidina Ali dengan Muawiyah adalah pembangkangan terhadap nash keimanan Ali. Dan ini pertentangan antara iman dan kufur.
Muawiah bin Abu sufyan adalah ipar Nabi, Ummu Habibah adalah istri beliau (sedangkan Abu Sufyan adalah mertua Rasulullah)
Mut'ah hukumnya haram berdasarkan Hadith Nabi, bukan pendapat Umar. Hadith ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri yang seumur-umur tak pernah mut'ah. Memang Nabi pernah membolehkan mut'ah, tapi kemudian diharamkan . Sama halnya dengan minuman keras, semula didiamkan, tapi kemudian dilarang.
Mut'ah halal, Yang mengharamkan adalah Umar. Kalau tidak diharamkan Umar (menurut mereka bukan Nabi yang melarang), maka tidak ada orang berzina. Memberi kesan seakan Umar sebagai penetap hukum syar'i

Shalat 5 (lima) waktu: Shubuh, Dzuhur, Ashar, Magrhrib dan Isya'. Waktunya terpisah-pisah 5 kali dalam sehari (jamak boleh/rukhshah jika ada alasan syar'i, seperti sakit, perjalanan jauh atau sebab lain yang menggugurkan 'azimah (kewajiban rutin yang disyariatkan)
Shalat 3 (tiga) waktu : Shubuh, Dzuhur-Ashar dan Maghrib-Isya' 3 kali sehari (jama' sepanjang masa tanpa uzur apapun)

Sujud dalam shalat di mana boleh, asalkan memenuhi syarat kesucian
Sujud di atas turba (kereweng dari tanah liat Karbala). Argumentasinya di bawah dalil-dalil pendapat pribadi para imam

Tidak ada anjuran taqiyyah (sikap menyembunyikan keyakinan sementara), karena dituntut harus berkata benar meskipun pahit (Qul al-Haqqa walau kana mrra)
Taqiyyah adalah bagian dari agama yang dianjurkan kepada umatnya dalam rangka adaptasi dengan "lawan" (Baca: al-Kafi, juz 2 hlm. 218-219).
Praktik taqiyyah acapkali digunakan untuk proses adaptasi dengan Sunni
Sumber : Majalah New Mafahim - Hai'ah Ash Shofwah Al-Malikiyyah

0 comments

Post a Comment