Pelajaran Dari Nigeria - Waspadai Gerakan Syiah

Pada tahun 1981, Iran menggelar Konferensi Internasional untuk Imam Jum'at dan Jama'ah mengundang pemimpin negara negara muslim di dunia serta para muftinya. Syaikh Muhammad Abdul Qadir Azad, ketua Majelis Ulama Paksitan, yang ikut konferensi menyaksikan pidato Khomeini yang berapi-api henadak memprovokasi untuk melakukan pemberontakan di negeri-negeri Muslim. Provokasi Khomeini ini sangat berbahaya. Revolusinya yang akan diekspor ke negeri-negeri muslim akan menjadi musibah besar kaum muslimin. Silahkan baca artikel kami sebelumnya bertajuk Hakikat Syiah Rafidah

Demikianlah beberapa kalimat yang ditulis oleh Kholili Hasbi dalam hidayatullah yang kini telah menjadi fakta di beberapa negara. Di setiap negara yang di dalamnya terdapat kelompok Syi'ah yang kuat pasti akan terjadi gejolak. Karena itu keberadaan kelompok Syi'ah di manapun harus diwaspadai karean bisa memicu gejala instabilitas. Indonesia sebagai bumi ahlussunnah wal jama'ah harus berusaha semaksimal mungkin menghentikan perkembangan aliran Syi'ah. Jangan sampai kecolongan sebagaiaman dialamai oleh Nigeria

hati hati terhadap gerakan syiah berkembang di nigeria


Dalam akun facebooknya, komando tertinggi militer Sudan menulis tentang perkembangan aliran Syi'ah di Nigeria. Syi'ahisasi di Nigeria dilakukan dengan sangat terencana melalui jalur pendidikan di universitas, pemberian ticket, tempat tinggal dan pernikahan dengan perempuan Iran yang tidak jelas kedua orang tuanya. Berikut informasi perkembangan Syi'ah yang dimuat dalam akun Facebook komando tertinggi militer Sudan:

Iran sukses menanamkan dan menumbuhkan ajaran Syi'ah di Nigeria di tengan kelengahan kelompok ahlussunnah wal jama'ah dengan program yang seksama yang berlangsung selama 15 tahun. Hasilnya sekarang para sahabat nabi secara terang-terangan di caci maki pada hari Jum'at di empat wilayah Nigeria yang populasi penduduknya mencapai 25 juta jiwa dari total keseluruhan penduduk Nigeria yang berjumlah 175 juta.

Pada tahun 2001 pemerintah Iran telah memulai program perektrutan 5000 siswa sekolah menengah untuk belajar di universitas di Qum setiap tahun dengan tiga ticket pulang pergi, fasilitas tempat tinggal, biaya hidup bulanan dan dinikahkan dengan wanita Iran hasil hubungan zina yang tidak diketahui siapa kedua orang tua, pakaian dan buku. Mereka juga disyaratkan untuk lulus dalam mata pelajaran fiqh Ja'fari dan hadits Syi'ah Rafidhah Itsna asyari. Jika tidak lulus mereka diharuskan untuk mengulangi di tahun pelajaran berikutnya.

Setelah menempuh studi selama 5 tahun para alumni ini akan masuk universitas di Nigeria yang sekarang berjumlah 5 yang diantaranya adalah:

  • Universitas Alulbait dengan 189.000 mahasiswa dan mahasiswi
  • Universitas Ja'far Asshadiq dengan 80.000 mahasiswa dan mahasiswi
  • Universitas Imam Husain dengan 160.000 mahasiswa dan mahasiswi

Untuk mendaftar di universitas-universitas ini tentu mahasiswa tidak disyaratkan harus orang Syi'ah dan pihak universitas juga tidak melarang ahlussunnah untuk menempuh studi di universitas-universitas tesebut. Proses syi'ahisasi dijalankan kepada para mahasiswa lewat proses pembelajaran yang tenang dan penuh kesabaran

Berangkat dari fakta mengerikan ini, jika ahlussunnah belum juga sadar dari tidur panjangnya maka Nigeria akan berubah menjadi negara Iran lain yang akan menikam pinggang ahlussunnah di Afrika. Bila ahlussunnah tidak segera dibangunkan dari tidur panjangnya maka anak-anak ahlussunnah akan menjadi pasukan Iran yang membunuh orang tua dan saudara-saudara mereka.

Fakta di Nigeria ini semestinya menjadi pelajaran berharga bagi ahlussunnah wal jama'ah tentang bahaya aliran Syi'ah yang mengkafirkan mayoritas sahabat dan siapapun yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman, menganggap Al Qur'an tidak orisinil, menghalalkan kawin kontrak meskipun dengan perempuan yang telah bersuami dan faham-faham lain yang bertolak belakang dengan faham ahlussunnah wal jama'ah yang tidak mungkin ditoleransi. Ahlussunnah di negeri ini harus merapatkan barisan untuk menjaga keutuhan NKRI jika tidak ingin negara ini menjadi negara Syi'ah sebagaimana Iran dulu berubah menjadi negara Syi'ah lewat revolusi yang dimpimpin Khomeini.

Para pemimpin negeri ini juga harus diingatkan bahwa stabilitas bangsa ini akan terancam jika Syi'ah dibiarkan berkembang semakin besar. Konflik sectarian antara Syi'ah dan ahlussunnah seperti yang terjadi di Suriah, Pakistan, Iraqa, Yaman bukan hal mustahil akan terjadi juga di Indonesia. Ancaman pemberontakan kelompok Syi'ah terhadap kekuasaan negara jangan dianggap sebagai fitnah karena menurut Dr. Khalid Muslih, pakar Syi'ah dari Universitas Islam Darussalam (UNIDA) Gontor, kelompok Syi'ah memang berpotensi melakukan pemberontakan di negeri-negeri Muslim. "Yang perlu diketahui oleh seluruh umat Islam, Syi'ah di berbagai negara selalu ingin memberontak karena dalam rangka urusan politik mereka, "ujar Khalid di Hidayatullah.com

0 comments

Post a Comment