Definisi Ummatan Washatan Hindari Sikap Ekstremitas Umat Islam

Dr. Sa'id Ramadhan Al Buthy dalam salah satu khutbahnya menyatakan bahwa salah satu karunia terindah Allah kepada ummat Islam yang membedakannya dengan umat lain adalah pemberian sifat wasathiyyah sebagaimana disebutkan dalam Al Baqarah : 143 yang aritnya, "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam), umat yang wasath (adil dan terbaik) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia....." Lalu apa makna wasath yang seringkali diterjemahkan dengan moderat? Al Buthy menegaskan bahwa washat dalam hal apapun bermakna sesuatu yang jauh dari sisi berlebihan dan sisi teledor atau tidak ekstrem dan tidak gegabah. Dengan demikian maksud ayat ini adalah Allah telah memuliakan ummat Islam dengan syari'ah yang jauh dari unsur ekstrem yang nota bene kecenderungan kaum Nashrani dan jauh dari unsur gegabah dan keteledoran yang telah menjerumuskan kaum Yahudi sebagaimana disebutkan dalam Al maidah : 77 yang artinya, "Katakanlah: "Hai ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus"
Sementara Abuya Sayyid Muhammad "Alawi dalam "Al Ghuluw wa Atsaruhu fil Irhab wa Ifsadil Mujtama" mendefinisikan ekstremeitas (al ghuluw) sebagai sikap yang melenceng dari keseimbangan (I'tidal dan wasath) yang telah ditetapkan dan diserukan Islam serta diperingatkan untuk tidak keluar darinya berdasarkan firman Allah di atas yang menjelaskan bahwa umat islam adalah ummat yang wasath dalam aspek zaman (memutus zaman kekanak-kanakan era sebelumnya dan menjaga kedewasaan akal zaman berikutnya) dan hukum

Sikap ekstrem dengan definisi di atas sesungguhnya telah berusia tua setua usia manusia. Allah berfirman dalam An Nisa' : 171 yang artinya, "Wahai ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan: "(tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang dilangit dan di bumi adalah milik-Nya. Cukuplah Allah menjadi pemelihara. Rasulullah sendiri bersabda dalam hadits riwayat Ahmad dalam Al Musnad yang artinya, "Jauhilah sikap eksterm dalam beragama karena tindakan ini telah membinasakan ummat-ummat sebelum kalian."

adil dan terbaik adalah makna wasatan

Ekstremitas atau sikap ekstrem bukan hanya muncul dalam ummat Islam. Kaum Yahudi jauh sebelumnya telah menunjukkan sikap ekstrem dengan tindakan mereka mendustakan, memfitnah, menzalimi bahkan membunuh para rasul. Demikian pula kaum Nashrani yang menunjukkan kecenderungan ekstrimnya dalam aspek aqidah dimana sebagian dari mereka memposisikan nabi Isa bin Maryam dalam level Tuhan yang disembah sebagaimana disebutkan dalam Al Maidah : 72 - 74. Bukan hanya terhadap nabi Isa, sikap ekstrim kaum Nashrani terlihat nyata dalam sikap mereka melambungkan posisi pendeta sehingga para pendeta diberi otoritas untuk menetapkan hukum syari'at, diwajibkan untuk dipatuhi secara mutlak dan harus diikuti dalam persoalan apapun yang bertentangan dengan ketentuan dan hukum-hukum Allah. Inilah yang terjadi pada kaum Nashrani sejak dahulu saat para pendeta menghalalkan barang yang haram, mengharamkan barang yang halal serta menetapkan berbagai hukum dan aturan, maka mereka mengikuti tindakan menyimpang para pendeta ini sebagaimana dijelaskan dalam At Taubah : 31. Dalam aspek kehidupan duniawi para pendeta Nashrani juga telah bersikap ekstrim tatkala mereka menciptakan konsep rahbaniyyah atau kependetaan yang melarang mereka untuk menikah

Pada era Rasulullah sikap ekstrem muncul dari segelintir sahabat namun beliau berhasil mengatasinya dan membunuh akarnya. Padahal sikap ekstrem ini muncul bukan dalam aspek aqidah tapi dalam aspek ibadah. Beliau melarang kecenderungan ini, mewaspadai dan membimbing mereka untuk kembali ke dalam sikap yang benar. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin malik bahwa ada tiga orang datang ke rumah para istri Rasulullah menanyakan ibadah beliau shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah dijawab, merek aseolah-olah memandang rendah kualitas ibadah beliau. Mereka berkata, "di manakan posisi kami dibanding Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau telah mendapat ampunan atas dosa yang telah dan belum dikerjakan". Lalu salah satu dari mereka berkata, "Sungguh aku akan shalat malam selamanya." Yang lain berujar, "Sungguh saya akan puasa seumur hidup." Yang ketiga meyatakan, "Saya akan menjauhi perempuan, tidak akan menikah selamanya. " Lalu datang Rasulullah dan bersabda kepada mereka yang artinya, "Kaliankah yang berkata seperti di atas? Ingatlah! Demi Allah, saya adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi saya tetap berpuasa, berbuka, shalat, tidur dan menikahi perempuan. Siapapun yang benci dengan jalan yang saya tempuh (sunnahku) maka ia bukan termasuk golonganku." Berangkat dari hadits ini maka tidak ada peluang bagi siapapun untuk berijtihad mewajibkan apa yang tidak diwajibkan Allah, melarang apa yang tidak dia larang dan mengadili masyarakat untuk mengikuti hal ini sesuai persepsinya.

Hadits di atas tidak boleh dipahami sebagai larangan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah secara mutlak. Karena bersungguh-sungguh dalam beribadah adalah tindakan yang dianjurkan dalam batas-batas yang telah ditetapkan syari'ah sebagaimana difirmankan Allah dalam Al'Ankabut:69 yang artinya, "dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik", dalam Ali 'Imran : 133 yang artinya, "dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa", dan dalam Al Ahzab : 41-42 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang". Maksud sesungguhnya hadits di atas adalah menciptakan keseimbangan dalam seluruh tuntunan kebutuhan material spiritual serta dunia dan agama. Karena sikap ekstrem tiga sahabat yang dikisahkan dalam hadits tersebut membuat mereka memaksakan sesuatu kemudian mewajibkannya dan melarang sesuatu lantas mengharamkannya. Sikap ini adalah tindakan ekstrem yang sesungguhnya.

Tindakan Rasulullah yang segera meluruskan sikap ketiga sahabat tersebut adalah deklarasi terbuka di depan masyarakat atas penolakan beliau terhadap kecenderungan yang mengandung sikap ekstrem di dalamnya. Beliau melakukan koreksi terhadap persepsi ketiganya untuk merealisasikan rasa takut dan ketaqwaan kepada Allah seraya menjelaskan bahwa rasa takut dan ketaqwaan kepada-Nya tidak boleh diaplikasikan dengan sikap berlebihan atau sikap teledor di luar konteksnya masing-masing.

Berangkat dari paparan di atas, ummat Islam seharusnya tidak mudah terpengaruh untuk bergabung dengan kelompok ekstrem yang seringkali menggunakan cara-cara yang melampaui batas yang ditetapkan agama dalam sepak terjangnya merealisasikan visi dan misinya. Karena karakteristik sesungguhnya ummat Islam adalah ummat yang wasath atau moderat yang jauh dari kesan kejam dan bengis.  WallahuA'lam
Sumber : Bulletin HAWARIY - Ditulis Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment