Klasifikasi Dosa Dalam Islam

Pembagian dosa dalam perspektif islam - Menurut mayoritas ahlussunnah wal jama'ah dosa terbagi dua yaitu dosa kecil dan dosa besar.

Hal ini berbeda dengan pendapat golongan Murji'ah yang berpendapat bahwa semua dosa itu kecil dan tidak berpengaruh negatif kepada pelakunya sepanjang ia muslim. Berbeda pula dengan pandangan kelompok Khawarij yang menyatakan bahwa semua dosa itu besar dan setiap dosa besar itu berarti kekufuran. Berbeda pula dengan pandangan kelompok yang mengkategorikan semua dosa itu besar karena melihat keagungan Dzat yang didurhakai namun tidak sampai momvonis pelakunya kafir kecuali dengan faktor yang bisa mengakibatkan kekafiran seperti sujud kepada berhala atau membuang mushaf ke dalam kotoran.

Ciri-ciri dosa besar diantaranya adalah ada sanksi hukuman yang pasti (had) atas pelakunya, ancaman siksaan atas tindakan melakukannya, pelakunya dikategorikan fasiq dan pelaknatan terhadap pelakunya sebagaimana Allah melaknat pencuri. Peringkat dosa dosa teratas (akbarul kabair) adalah menyekutukan Allah. Selanjutnya membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk membunuhnya kecuali ada alasan yang dibenarkan. Sedang dosa-dosa besar berikutnya seperti zina, bersetubuh dengan sejenis, menyakiti orang tua, menyihir, menuduh zina, lari dari medan peperangan, memakan riba dan sebagainya maka peringkatnya bisa naik turun sesuai kondisi dampak negatif yang diakibatkannya

tidak ada dosa yang tidak diampuni selain bertaubat kepada allah


Bagi pelaku dosa besar berkewajiban untuk segera melakukan taubat atas tindakannya ini. Penundaan terhadap taubat dari dosa besar ini dikategorikan sebuah tindakan dosa pula. Untuk keabsahan taubat dibutuhkan tiga kriteria yaitu :
  • Menghentikan tindakan dosa
  • Menyesal semata-mata karena Allah akibat melakukan dosa tersebut
  • Berkomitmen untuk tidak mengulanginya kembali. 
Tiga kriteria ini berlaku atas dosa yang terkait dengan Allah. Jika dosa itu terkait dengan sesama manusia maka ditambah satu kriteria yaitu mengembalikan apa yang diambil dengan cara zalim kepada yang berhak atau memperoleh pengampunan darinya dengan mengungkapkan dosanya secara rinci menurut para ulama Syafi'iyyah atau secara global menurut ulama Malikiyyah. Jika tidak sempat melakukan kriteria keempat ini maka diharuskan untuk besikap ikhlas serta memohon sepenuh hati kepada Allah dengan penuh kerendahan agar Dia membuat semua pihak yang dizalimi memaafkannya kelak di akhirat. Di samping empat kriteria ini, taubat juga disyaratkan harus dilakukan saat nyawa belum sampai di tenggorokan (kondisi sakaratulmaut) atau sebelum matahari terbit dari arah barat yang nota bene salah satu tanda dekatnya hari kiamat.

Jika pelaku dosa yang telah bertaubat dengan memenuhi kriteria-kriteria di atas kembali melakukan dosa maka taubat tersebut tidaklah batal. Hanya saja ia diwajibkan untuk memperbaharui taubatnya kembali atas dosa yang dilakukan setelah bertaubat. Karena orang yang dicintai Allah adalah orang yang bertaubat setiap kali terperosok dalam kubangan dosa sebagaimana disebutkan dalam Al Baqarah ayat : 222 yang artinya

" Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat". Dalam sebuah hadith Rasulullah bersabda yang artinya, "Orang yang bertaubat dari dosa laksana orang yang bersih darinya."

BULETIN HAWARIY - WATU BELAH CIREBON

0 comments

Post a Comment