Tentang Hukum & Ketentuan Puasa Rajab Menurut Para Ulama Salaf

Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz mengatakn bahwa mayoritas para ulama berpendapat puasa rajab sebulan penuh itu hukumnya makruh karena hal itu merupakan tradisi Jahiliyyah dan nabi telah melarangnya. Yang diperbolehkan adalah puasa Senin Kamis atau tiga hari pada bulan Rajab.

Namun jika ada kesengajaan untuk berpuasa pada bulan Rajab maka hal ini adalah makruh. Pandangan Bin Baz ini ternyata berseberangan dengan pendapat Syaikh Abdul Fattah Qudais Al Yafi'I yang menegaskan bahwa para ulama tidak satu suara dalam menetapkan hukum berpuasa pada bulan rajab. 

bacaan niat puasa bulan rajab

Pendapat Imam Madzhab

Mayoritas ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi'I serta salah satu pendapat dalam madzhab Hambali berpandangan bahwa sunnah berpuasa Rajab sebulan penuh. Para ulama madzhab Hambali berpendapat bahwa berpuasa hanya pada bulan rajab tanpa berpuasa pada bulan lainnya itu hukumnya makruh. 

Hukum makruh ini di mata mereka bisa lengyap dengan tidak berpuasa sehari atau dua hari dari bulan Rajab atau dengan menyambungnya dengan puasa bulan lain. Sedang para ulama madzhab Hambali berbeda pendapat menyangkut mengkhususkan puasa pada bulan - bulan mulia. 

Sebagian berpendapat sunnah tetapi mayoritas tidak menyebutkannya sebagai sunnah. Syaikh Abdul Fattah lalu mengutip pendapat beberapa ulama dari madzhab empat dalam masalah puasa Rajab. 

Dari madzhab Hanafi beliau mengutip di antaranya dari kitab Al Fatawa Al Hindiyah 1/202 yang menyatakan bahwa puasa sunnah ada beberapa macam : 
  • Puasa Muharram 
  • Puasa Rajab 
  • Puasa Sya'ban 
  • Puasa 'Asyura 
 Dari madzhab Maliki beliau menyebut Syarh Al Kharsy 'ala Khalil, Muqaddimah ibnu Abi Zaid beserta syarh Al Fawakih Addawani, Kifayatutthalib Arrabbani, Attaj wal Iklil dan banyak lagi yang menyatakan bahwa puasa Rajab itu disunnahkan. 

Dari madzhab Syafi'I beliau diantaranya mengutip pendapat Imam Nawawi dalam Al Majmu' 6/439 sbb, "Ashhabuna berkata bahwa salah satu puasa yang disunnahkan adalah puasa pada bulan - bulan mulia yaitu Dzulqa'dah, dzulhijjah, Muharram dan Rajab" Yang paling utama adalah puasa pada bulan Muharram. Arrouyani dalam Al Bahr menyatakan bahwa yang paling utama adalah puasa di bulan Rajab. 

Pendapat ini keliru berdasarkan hadits Abu Hurairah yang artinya, "Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram. "Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari dalam Asnal Mathalib 1/433 mentatakan bulan paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan-bulan mulia yaitu Dzulqa'dah, dzulhijjah, Muharram dan Rajab. 

Yang paling utama adalah puasa pada bulan Muharram. Arrouyani dalam Al Bahr menyatakan bahwa yang paling utama adalah puasa di bulan Rajab. Pendapat ini keliru bedasarkan hadits Abu Hurairah yang artinya, "Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram.

"Syaikhul Islam Zakariya Al Anshari dalam Asnal Mathalib 1/433 menyatakan bulan paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan-bulan mulia yaitu Zulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab"

Syaikh Abdul Fattah juga mengutip pendapat Ibnu Hajar dalam Fatwanya yang mengkritik seorang faqih (ulama pakar fiqh) yang melarang berpuasa di bulan Rajab dan menganggap sikap faqih tersebut sebagai tindakan bodoh dan serampangan terhadap syari'ah yang suci. 

Jika faqih ini tidak mencabut sikapnya maka para hakim syari'at wajib melarang dan memberinya sanksi keras yang dapat membuatnya dan orang semisalnya tidak bersikap serampangan terhadap agama Allah. 

Barangkali sang faqih ini tertipu dengan riwayat yang menyatakan bahwa neraka Jahannam dinyalakan dari tahun ke tahun untuk mereka yang berpuasa pada bulan Rajab. Ia tidak tahu bahwa hadits ini bathil dan dusta yang tidak boleh diriwayatkan sebagaimana disebutkan oleh Abu 'Amr bin Asshalah, salah seorang ulama terkemuka dalam penguasaan hadits dan berbagai disiplin ilmu lain. 

Dari kalangan madzhab Hambali, Syaikh Abdul Fattah mengutip diantaranya pandangan Ibnu Qudamah dalam Al Mughni 3/53 pasal : makruh menyendirikan Rajab dengan berpuasa. Imam Ahmad berkata, "Jika seorang lelaki berpuasa di bulan Rajab maka ia hendaknya berbuka sehari atau beberapa hari, tidak boleh berpuasa sebulan penuh". "Imam Ahmad juga mengatakan bahwa siapapun yang berpuasa setahun maka ia boleh berpuasa Rajab.

Jika tidak berpuasa setahun maka ia tidak boleh berpuasa Rajab secara berturut-turut, tetapi harus ada hari dimana ia tidak berpuasa agar ia tidak menyamakan Rajab dengan bulan Ramadhan." Menyangkut status hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab yang dikategorikan dho'if maka hadits dho'if boleh dipraktekkan untuk amaliah-amaliah yang bersifat utama

Namun Ibnu Hajar dalam Fatwanya menegaskan bahwa pendapat orang bodoh yang menyatakan bahwa hadists-hadits terkait puasa rajab itu palsu, kalau yang ia maksudkan adalah hadits-hadits yang terkait puasa Rajab secara umum atau khusus maka hal itu adalah sebuah kebohongan yang karenanya ia harus bertaubat. 

Jika tidak, maka ia harus diberi sanksi maksimal. Memang benar banyak hadits palsu terkait keutamaan bulan Rajab, namun para ulama kita tidak menggunakan hadits-hadits tersebut untuk menetapkan kesunnahan puasa Rajab.

WallahuA'lam Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment