Inilah Dalil-Dalil Tarawih 20 Raka'at

Setiap tahun terjadi perdebatan sengit dalam internal kaum muslimin menyangkut jumlah rakaat tarawih. 

20 rakaat jumlah bilangan rakaat tarawih yang benar


Perdebatan ini terjadi antara kelompok yang memaksa kaum muslimin untuk mengikuti pendapat mereka bahwa shalat tarawih tidak boleh dilaksanakan melebihi 8 rakaat dan masyarakat awam yang terkadang tidak menemukan figur yang mampu membantu mereka untuk mengcounter pandangan kelompok tersebut

Kelompok ini dengan lantang menyalahkan para ulama besar dan seluruh kaum muslimin yang selama berabad-abad lampau mempraktekkan jumlah rakaat yang berbeda dengannya
Praktek tarawih yang dilakukan para ulama diingkari dan dicap bid'ah oleh kelompok tersebut

Dengan menyatakan bahwa tidak boleh menambah jumlah raka'at tarawih lebih dari 8 rakaat, sesungguhnya kelompok ekstreem ini mengharamkan apa yang dihalalkan Allah

Dari aspek kebahasaan atau etimologi, menurut Ibnu Mandhur dalam Lisanul 'Arab, lafadz tarwih adalah bentuk jamak dari tarwihah yang bermakna satu kali beristirahat

Dinamakan demikian karena mereka yang menjalankan shalat tarawih akan beristirahat setelah melaksanakan shalat empat rakaat. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa penamaan shalat tarawih karena mereka yang melaksanakannya akan beristirahat pada setiap dua kali salam
Dari pendekatan bahasa saja bisa disimpulkan bahwa shalat tarawih lebih dari 8 rakaat. Karena satu kali tarwih (istirahat) terjadi setelah melaksanakan 4 rakaat

Jika shalat tarawih dilaksanakan dengan 2 kali istirahat maka jumlah rakaatnya dalah 12 rakaat. Para ulama sendiri telah sepakat bahwa jumlah rakaat shalat tarawih adalah 20 rakaat di luar shalat witir dan 23 rakaat dengan menghitung witir
Pendapat ini adalah pendapat mu'tamad kalangan ulama madzhab Hanafi, Hambali, Syafi'i dan yang masyhur dari ulama Maliki. Pendapat yang tidak populer dari madzhab Maliki, jumlah rakaat tarawih adalah 36 rakaat. Yang pasti ummat Islam tidak pernah mendengar pendapat bahwa shalat tarawih berjumlah 8 rakaat kecuali pada zaman sekarang.

Pendapat kelompok yang berseberangan dengan para ulama sebelumnya ini muncul karena kesalahfahaman dalam memahami sunnah nabi dan ketidakmampuan mereka dalam mengkompromikan hadits-hadits serta sikap abai mereka terhadap ijma' verbal dan praktikal semenjak era para sahabat hingga sekarang

Mereka berargumentasi dengan hadits yang bersumber dari Sy. 'Aisyah yang mengatakan, 
"Rasulullah pada bulan Ramadhan dan selainnya tidak pernah shalat melebihi 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat yang tidak perlu engkau tanyakan baik dan panjangnya, lalu shalat lagi 4 rakaat yang tidak perlu engkau tanyakan baik dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 3 rakaat. 'Aisyah bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum melaksanakan shalat witir?". "Sesungguhnya kedua mataku tidur namun hatiku tetap terjaga, " Jawab beliau (HR. Bukhari dan Muslim)

20 raka'at tatkala ia berkata, "Shalat Tarawih 20 raka'at adalah pendapat mayoritas ulama yang dipraktekkan kaum muslimin di wilayah timur dan barat" (Hasyiah Ibnu 'Abidin). Pendapat populer ulama madzhab Maliki adalah tarawih berjumlah 20 raka'at sama dengan pendapat mayoritas ulama. Al 'Allamah Ad Dardir menyatakan, "Shalat Tarawih di bulan Ramadhan adalah 20 raka'at yang dilaksanakan setelah shalat 'Isya'.

Setiap dua rakaat dilakukan salam selain yang genap dan witir. Disunnahkan mengkhatamkan Al Qur'an dalam shalat Tarawih dengan membaca satu juz untuk 20 rakaat setiap malam. (Assyarh Asshaghir)

Al 'Allamah An nafrawi menyebutkan kuatnya pendapat madzhab mayoritas ulama dan kecocokan para pengikut Imam malik terhadap madzhab ini serta menyebutkan pendapat lain Imam Malik.

Ia bekata, "Assalaf Asshalih yaitu para sahabat radhiyallahu 'anhum bin Khatthab dan atas perintahnya Ramadhan pada era khalifah 'Umar bin Khatthab dan atas perintahnya sebagaimana telah disebutkn sebelumnya di masjid-masjid dengan 20 raka'at.

Jumlah ini adalah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, As Syafi'i dan Ahmad serta yang dipraktekkan sekarang di seluruh kota. Kemudian setelah melakukan shalat 20 raka'at mereka mengerjakan shalat witir 3 raka'at

Tiga raka'at ini maksudnya adalah menggunakan kategori memenangkan jumlah yang paling mulia (taghlibul asyraf) bukan berarti 3 itu witir. Karena sesungguhnya witir itu satu raka'at sebagaiamana telah disebutkan

Kesimpulan ini ditunjukkan oleh kalimat "mereka memisahkan antara yang genap dan yang witir atau ganjil". Pemisahan ini hukumnya sunnah. Makruh hukumnya menyambung 3 raka'at witir ini kecuali bagi yang bermakmum kepada imam yang menyambungnya

Abu Hanifa berpendapat tidak boleh memisahkan 3 rakaat sedang Asy Syafi'i memperbolehkan antara memisahkan atau menyambung. Kaum muslimin di wilayah timur dan barat terus menerus mempraktekkan shalat tarawih dan witir 23 raka'at

Kemudian pasca perang Al Harrah di Madinah, generasi salaf yang hidup di era 'Umar bin Abdul 'Aziz mengerjakan shalat tarawih sebanyak 36 raka'at selain yang genap dan ganjil (3 rakaat witir).

Jumlah ini adalah pendapat yang dipilih dan dinilai baik imam Malik dalam Al Mudawwanah serta yang dipraktekkan oleh warga Madinah. Namun sebagian pengikut Imam Malik memilih jumlah tarawih 20 raka'at sebagaiaman yang dilakukan Umar bin Khatthab karena jumlah ini yang senantiasa dipraktekkan  kaum muslimin di kota-kota. (Al Fawakih Ad Dawani). Bersambung

Ditulis Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment