Menumbuhkan Kesadaran Berpuasa Di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa yang harus dimanfaatkan oleh kaum muslimin secara optimal untuk mendulang pahala, meraih rahmat, ampunan dan kebebasan dari siksa neraka

Namun sayangnya di negara kita beberapa tahun belakangan suasana Ramadhan tidak lagi sesakral dahulu. Mengapa? Karena banyak kaum muslimin yang dengan terang-terangan tanpa rasa malu tidak berpuasa di berbagai tempat di negeri ini

Jika mereka sendiri tidak mau menghormati bulan suci Ramadhan maka bagaiamana kita dapat berharap agar ummat lain menaruh respek terhadap pelaksanaan puasa Ramadhan?

Kaum muslimin yang meremehkan kewajibannya di bulan Ramadhan barangkali tidak mengerti bahwa Ramadhan adalah bulan di mana faktor-faktor diampuninya dosa jauh lebih banyak dibanding bulan lain

Karena itu hanya orang yang melewati batas kedurhakaan kepada Allah yang akan gagal meraih ampunan-Nya. Dalam sebuah hadits Rasulullah mengamini do'a yang dipanjatkan Jibril,
 "Siapapun yang menemui bulan Ramadhan namun ia tidak mendapatkan ampunan, maka semoga Allah menjauhkannya. Katakan Amin!!"Beliau pun menuruti perintah Jibril untuk membaca amin

Berangkat dari uraian di atas, kaum muslimin yang malas melaksanakan kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan harus diingatkan tentang keutamaan bulan Ramadhan yang diantaranya adalah di bulan bulan tersebut seluruh pintu langit dan pintu surga dibuka

Pintu neraka ditutup dan setan-setan durhaka dibelenggu serta dibuang ke lautan agar tidak mengganggu ibadah puasa dan shalat malam kaum muslimin. Setiap malam Ramadhan ada yang berseru,

"Wahai pencari kebaikan, datanglah ! Wahai pencari keburukan, berhentilah !." Di bulan Ramadhan ibadah sunnah akan dibalas dengan pahala fardlu dan ibadah fardlu akan dibalas dengan pahala berlipat ganda hingga 70 kali lipat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri bersabda yang artinya,
"Siapapun yang berpuasa Ramadhan dan melaksanakan shalat malamnya dengan meyakini kebenaran janji allah dan ikhlas semata-mata karena Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat"

Namun puasa yang ideal bukanlah sekedar menahan rasa lapar dan haus serta keinginan melampiaskan hasrat seksual. Puasa yang ideal harus dibarengi dengan mengimplementasikan etika-etika berpuasa sebagaimana dijelaskan oleh Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam An Nashaih Ad Diniyyah.
Diantaranya adalah menjaga mulut dari berbohong, menggunjing, dan mengomentari hal-hal yang tidak perlu. Menjaga mata dan telinga dari memandang dan mendengar hal-hal yang tidak halal dilihat dan didengar atau yang tidak berguna

Orang yang berpuasa juga harus menjaga perutnya dari mengkonsumsi barang haram atau yang tidak jelas status halal haramnya. Saat berbuka ia harus berusaha keras berbuka dengan makanan halal

Sebagai anjuran untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan berbuka, sebagian ulama salaf memberi saran, 

"Jika engkau berpuasa, perhatikan apa yang engkau jadikan sebagai makanan untuk berbuka dan pada siapa engkau berbuka!."

Orang yang berpuasa juga harus mengendalikan seluruh anggota badannya dari tindakan dosa dan hal-hal yang tidak berguna. Hanya dengan cara demikian puasanya dikategorikan sempurna dan bersih. 

buka puasa di masjid afdhal

Jangan sampai ia hanya membuat dirinya menderita dengan menahan lapar dan haus tapi dalam membiarkan anggota bandannya larut dalam kemaksiatan. Dengan sikap demikian, ia telah merusak puasanya dan menyia-nyiakan penderitaannya
http://blogkaruhun.blogspot.com/2014/07/adab-berpuasa-di-bulan-ramadhan.html

Dalam hal ini Rasulullah bersabda yang artinya., 
 "Banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan haus" 
Memang meninggalkan tindakan maksiat adalah kewajiban yang bersifat langgeng atas siapapun, baik ia sedang berpuasa maupun tidak

Namun bagi orang yang berpuasa, menghindari maksiat statusnya harus lebih ditekankan dan diwajibkan. Wallahu A'lam bisshawab

Ditulis Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment