Ramadhan Momen Meraih Pahala Melimpah

Pada momen-momen tertentu biasanya para pedangang memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan semaksimal mungkin

Demi meraih untung besar ini mereka berusaha keras mendatangkan barang kualitas bagus dan terbaik.

Demi keuntungan besar pula mereka rela menempuh perjalanan jauh dan beresiko, meninggalkan keluarga dan negaranya serta mengorbankan waktu istirahat mereka

Kesulitan apapun yang bakal mereka hadapi dianggap mudah diatasi demi meraih untung besar. Tentunya tidaklah aneh jika para pedagang bersikap demikian

Karena siapapun yang telah mencicipi manisnya keuntungan maka kesulitan apapun akan terasa ringan

Demikianlah karakter pedagang dunia yang kadang mendapatkan laba sesuai harapannya dan tidak jarang malah mengalami kerugian besar diluar prediksinya

Kondisi di aas sangat berbeda dengan pedagang akhirat yang melakukan akad dagang dengan Allah dengan mempersembahkan amal shalih yang tulus.

Ia tidak akan pernah mengalami kerugian apalagi kebangkrutan karena mitra dagangnya adalah Allah yang Maha Kaya, Pemurah dan Penyayang yang tidak mungkin mengelabui dan merugikan siapapun yang bermuamalah dengan-Nya



Malah Allah akan memberi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat atau tak terhingga jumlahnya sebagai balasan amal ibadah hamba-Nya.

Yang luar biasa adalah Allah akan membalas dengan surga yang abadi kepada siapapun memelihara ketaqwaan saat berdagang dengan-Nya, dan bermuamalah dengan cara yang positif dengan makhluk-Nya
http://blogkaruhun.blogspot.com/2015/06/menumbuhkan-kesadaran-berpuasa-di-bulan-ramadhan.html
Dalam konteks bulan suci Ramadhan yang nota bene momen untuk meraih pahala melimpah yang terjadi sekali dalam setahun, kita harus mampu menjadikannya sebagai muslim berdagang dengan Allah yang akan memberi kita laba berupa pembebasan dari siksa neraka dan pengampunan dosa-dosa masa lampau

Berdagang dengan Allah itu dengan cara menjadikan amal shalih sebagai komoditas utama, sikap tawadhu' sebagai symbol, sikap santun dan lembut sebagai karakter, dan sikap iba serta kasih sayang sebagai aksesoris.

Dengan cara seperti ini Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan baik kita sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Kahfi : 30 yang artinya,
"Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan yang baik. " Dalam sebuah hadits Qudsi Rasulullah shallallhu'alaihi wasallam bersabda yang artinya, "Seluruh amal perbuatan anak Adam itu untuk dirinya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya semata-mata karena Aku." (Muttafaq 'Alaih).
Hadits ini menjelaskan bahwa ibadah puasa adalah rahasia antara Allah dengan hamba-hamba-Nya. Karena orang yang berpuasa bisa saja mengelabui orang lain dengan pura-pura berpuasa, namun ia tidak mungkin mengelabui Allah yang Maha Mengetahui.

Karena itu puasa yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala adalah puasa yang steril dari tindakan maksiat baik maksiat yang bersifat verbal maupun praktikal sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam hadits riwayat Al Bukhari, Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah yang aritnya, "Siapapun yang tidak menghindari berkata dan berbuat dusta maka Allah tidak butuh tindakannya menjauhi makanan dan minuman." Wallahu A'lam.
(Sumber : Hidyatul Mursyidin karya Syaikh 'Ali Mahfudz dan Fathul Qarib Al Mujib karya Sayyid 'Alawi bin Abbas Al maliki)
Ditulis Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment