Jadilah Seperti Unta Penurut

Pada tulisan sebelumnya sudah disampaikan tentang salah satu tanda orang yang beriman, yakni gampangan dan lemah lembut. Berbuat mudah dalam urusan dunia dan berbuat mudah dalam hal berkaitan dengan kepentingan pribadinya

Saking mudahnya, orang beriman itu laksana unta penurut. Jika dituntun ia mengikuti, dan jika disuruh duduk, ia pun duduk. Bahkan saking penurutnya, unta itu disembelih dalam keadaan berdiri, tanpa perlu dipaksa dibaringkan sebagaimana hewan-hewan seukurannya yang lain


Sifat gampangan dan lebah-lembut orang yang beriman itu bisa kita lihat dari beberapa hal. Secara eksplisit Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki dalam kitabnya Kasyful Ghummah bab ke 14 ini telah menyinggung satu hal istimewa terkait hal itu, yakni "menahan amarah" sebagaimana telah disampaikan pada edisi terdahulu. Rasulullah pernah bersabda
"Barang siapa menahan amarah padahal ia bisa menurutinya maka Allah memenuhi hatinya dengan keamanan dan keimanan". (H.R. Abu Dawud)
Ada hal istimewa lagi berkaitan dengan ciri orang beriman yang gampangan dan lemah-lembut ini. Hal itu tidak lain, bahwa orang beriman itu pastilah memiliki rasa kasih sayang. Dalam kaitan ini, sungguh ditegaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an :
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih-sayang. (Q.S. Maryam : 96)
Mengomentari ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis : Allah SWT mengabarkan bahwa Dia menanamkan kepada hamba-hamba-Nya kaum mukminin yang beramal shalih, yaitu amal-amal yang dirihdhai Allah dengan mengikuti syariat Muhammad Sallallahu 'Alihi Wasallam. Dia akan menanamkan bagi mereka di dalam hati hamba-hamba-Nya yang shalih perasaan cinta dan kasih sayang. Ini suatu perkara yang mesti dan harus

Secara gramatika bahasa Arab, kata ar-rahman yang dalam ayat di atas diartikan sebagai "kasih sayang" berwazan "fa'lan". Wazan fa'lan dalam bahasa Arab biasanya menunjukkan keluasan dan mencakup menyeluruh. Ketika Allah bersifat ar-Rahman, maka ia memberikan kasih sayang itu secara umum kepada seluruh makhluk-Nya di dunia, tanpa terkecuali, tanpa memandang mereka beriman atau tidak.

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa ar-Rahman menunjukkan sifat yang terkadnung pada Dzat dan karenanya tidak diungkapkan dalam bentuk muta'addi (memerlukan obyek). Dengan demikian, ar-Rahman menunjukkan sifat-Nya yang menyeluruh kepada siapa saja

Dari pengertian ar-Rahman diatas, ketika sifat kasih-sayang (ar-rahman) seharusnya juga dimiliki oleh seorang mukmin, maka itu berarti kasih-sayangnya tidak saja cukup kepada diri dan keluarganya saja. Sebab Anas meriwyatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda - sebagaimana dinukil Abuya dalam bab ke 14 ini :
"Demi Dzat yang diriku ada dalam kuasa-Nya, Allah tidak menaruh kasih-sayang kecuali kepada orang yang penyayang."Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, kita semua adalah orang yang penyayang". Beliau bersabda, "Bukanlah orang yang menyayangi diri dan keluarganya saja, melainkan orang yang menyayangi kaum muslimin" (H.R. Abu Ya'la, ath-Thabaraniy)
Bahkan tidak itu saja! Dalam hadits lain, Abu Musa RA pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda - yang juga dinukil Abuya adalam bab ke-14 ini
"Kalian tidak akan pernah beriman hingga kalian saling menyayangi."Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, kami selruuhnya adalah penyayang." Beliau bersabda, "Sungguh bukanlah kasih sayang salah seorang kalian kepada temannya, melainkan kasih sayang kepada orang-orang umum" (H.R ath-Tabaraniy)

Jelas dalam hadits di atas yang dimaksud Nabi SAW adalah kasih sayang kepada siapa saja, tidak khusus hanya kepada diri sendiri dan keluarga, ataupun kaum muslimin/muminin - sebagaimana disangkakan oleh para sahabat. Kasih sayang sebagai pengejawantahan sifat orang-orang beriman yang gampangan dan lemah-lembut itu seharusnya tertuju kepada sekalian makhluk di muka bumi, tanpa memandang suku,agama, ras, golongan status sosial, dan sebagainya. Bahkan kepada mahluk lain, termasuk tanaman dan binatang. Bahkan kepada yang bermusuhan dengan beliau sekalipun


Abu Thalib baru saja wafat. Hanya berselang hari, Khadijah yang amat dicintainya pun pergi untuk selamanya dari sisinya. Rasulullah SAW telah kehilangan dua orang yang amat dikasihinya dalam waktu yang hampir bersamaan. Ini merupakan tekanan berat, hingga dinamakan yaumul huzn (hari-hari berat) bagi baginda rasul

Tekanan Quraisy pun menjadi. Cercaan, hinaan, dan perlakuan menyakitkan dari mereka terus diterimanya. Nabi lalu pergi secara diam-diam ke Bani Tsaqif di Thaif untuk mengobati dukanya ini. Beliau membawa harapan yang besar, mengingat pemuka mereka masih keluarga dekatnya

Tetapi, apa yang kemudian dialaminya bersama Zaid bin Tsabit yang menyertainya sungguh jauh panggang dari api. Alih-alih mengharap pelita segera terpetik di daerah sebelah tenggara Mekah yang subur itu. Justru yang beliau terima adalah hujan batu dan sumpah-serapah, seraya terusir dari daerah mereka

Ketika selesai beristirahat di sebuah kebun milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, kemudian keduanya meneruskan perjalanan kembali ke Mekah. Datanglah malaikat Jibril diiringi malaikat penjaga gunung yang menawarkan bantuan.

"Jika engkau mau supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini ke atas mereka, niscaya akan aku lakukan"

Gunung Abu Qubais dan Qa'aiqa'an tampak kokoh berhadapan di kejauhan bak dua raksasa yang berdiri diantara Mekah dan Thaif. Kedua gunung itulah yang akan dilemparkan ke perkampungan Bani Tsaqif jika Rasulullah mau.
"Tidak Jibril" jawab nabi tegas. "Bahkan aku berharap mudah-mudahan Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun"
Lalu Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah! Tunjukkanlah (jalan yang lurus) kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti"
Tak heran jika Jibril kemudian berkata, "Maha benar Allah yang telah menamakan dirimu (Rasulullah) pengasih serta penyayang"

Betapa kasih sayang Rasulullah SAW kepada siapa saja tercermin dalam peri kehidupan hariannya. Beliau menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat di hadapan beliau dengan berdiri. Beliau menjenguk seorang wanita yang biasa meludahinya saat lewat di depan rumahnya. Wanita itu suatu hari tidak meludahi Rasulullah karena sakit. Beliau tidak marah ketika dilempari kotoran

lebih dari itu, masihkah kita ingat ketika Fathul Makkah, di hadapan sekalian orang Qurasiy yang selama ini memusuhi beliau, bahkan memerangi kaum muslimin dalam Perang BAdar, Uhud dan Khandaq-dan kini bertekuk lutut pasrah bongkokan, beliau justru berikan amnesti masal dengan membebaskan sama sekali dari hukuman yang seharusnya pantas mereka terima, dengan sabda beliau
"Kalian tidak bersalah! Pergilah, kalian semua bebas!"
Peristiwa itu dicatat sejarah dengan tinta emas sebagai pembebasan terindah sebuah kota. Sungguh benar jika beliau dinamakan sang pengasih dan penyayang (ar-rauh ar-rahim) sebagaimana disebutkan Jibril dalam kisah di atas

Oleh karena itu, sangat tepat jika seorang mukmin yang bercirikan seperti unta penurut memiliki sifat kasih-sayang sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Apalagi Rasulullah pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oelh Abullah bin Amr bin Ash RA
"Orang-orang berbelas-kasih akan selalu dikasihi oleh Allah Dzat Maha penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, maka siapa yang ada di langit akan menyayangimu!" (H.R. Abu Dawud, at-Tirmidzi)
Kasih sayang kepada sekalian makhluk di bumi ini karenanya merupakan kunci kita mendapatkan kasih sayang yang lebih utama dari Dzat yang Maha Penyayang. Terlebih lagi, kunci masuk surga ternyata bukan karena amal-amal kita.

Jika karena amal, bagaimana mungkin seorang pelacur dengan segudang dosa zinanya yang tak terperi-bisa masuk surga, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits? Ia masuk surga justru karena kasih-sayangnya yang tulus yang itu menjadi sebab Allah memberikan kasih-sayang-Nya kepada hamba-Nya meski ia berlumur dosa

Demikianlah bab ke-14 ini ditutup dengan sebuah hadits luar biasa yang dinukil oleh Abuya yang diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri
"Sesungguhnya (para wali) Abdal umatku tidak masuk surga sebab amal-amal. Mereka memasukinya sebab rahmat Allah, jiwa yang pemurah, hati yang bersih, dan kasih sayang kepada selruuh kaum muslimin" (H.R. Ibnu Abi Dunya)

Subhanallah!! Mari menjadi unta penurut, saudaraku. Menjadi gampangan dan lemah lembut, dengan menahan amarah dan berkasih-sayang kepada slruuh makhluk. Fastabiqul khairat!. Wallahu 'Alam

Oleh : Ust. Bahtiar HS

0 comments

Post a Comment