Kehalusan Hati Imam Syafi'i

Saat itu Imam Syafi'i sedang tertidur pulas. Tiba-tiba datang seorang ibu membawa bayi, kemudian dia bercengkerama dengan ibu saya. Saat wanita tersebut bercerita, tiba-tiba anak di gendongannya menangis dengan suara yang keras.

Sang wanita tergopoh gopoh karena segan kepada Imam Syafii yang sedang tidur, juga karena kewibawaan Imam Syafii, ibu tersebut lalu menutup mulut bayi dan membawanya lari ke luar rumah, sebab khawatir Imam Syafi'i terbangun mendengar tangisan bayinya. Konon antara letaknya pintu dan tempat duduknya lumayan jauh. Oleh karena mulut ditutup, bayi tersebut makin meronta ronta dan menambah gugup sang ibu


Beberapa saat setelah kejadian tersebut berlalu, Imam Syafii terbangun dari tidurnya, lalu ibuku menceritakan kejadian itu padanya. Dengan nada bergurau, ibuku berkata : 
"Ya Syafii, hampir saja engkau membunuh orang." 



Begitu beliau mendengar kalimat itu, wajah beliau jadi memerah, membengkak menahan marah. Dan berkata, 
"Bagaimana kejadiannya". Lalu ibuku menceitakannya dengan detil



Setelah mendengar ceritanya, beliau bersumpah, bahwa beliau tidak akan tidur siang selamanya kecuali ada roha (gilingan) sedang menggiling ada disisi kepalanya. Bermula dari kejadian ini, maka bila Beliau ingin tidur siang, beliau selalu memerintahkan orang untuk menjalankan gilingan

Hikmah Cerita Imam Syafi'i

Syafi'i sang Imam tidak menginginkan orang lain segan, atau malu karena saat beliau beristirahat yang menyebabkan orang lain menjadi susah karenanya. Hal ini dari halusnya perasaan, dari waroknya beliau

Kejadian bayi yang menangis, lalu dibawa cepat keluar sambil menutupi mulutnya, sampai sampai bayi tersebut meronta-ronta, membuat beliau merasa bersalah, seakan akan hati beliau berkata, sayalah yang menjadi penyebab ibu itu memperlakukan bayinya seperti itu

Imam Syafii tidak ingin kejadian itu terulang lagi, tidak ingin orang lain sungkan, malu karena beliau. Maka beliau bersumpah untuk tidak akan tidur kecuali ada alat gilingan yang suaranya cukup keras, diaktifkan, dijalankan saat beliau tidur. 

Gunanya supaya orang yang berada disekelilingnya bisa bebas bicara, tidak sungkan untuk bicara, tidak sungkan untuk bergurau, Walaupun beliau sedang tidur. Sungguh mulia akhlak beliau. Bagaimana dengan kita?
Oleh : K.H. Ibnu Hajar
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur'an Fatkhul Bari Al-Makky Wonooyu-Sidoarjo

0 comments

Post a Comment