Kehati-Hatian Ulama Dalam Berfatwa [Kisah Imam Malik]

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Imam Malik bin Anas pernah menerima seseorang yang diutus oleh kaumnya untuk bertanya tentang beberapa hukum dalam masalah agama kepadanya

Namun, sang Imam tidak kunjung memberi jawaban hingga beberapa hari. Lalu orang tersebut berkata,

"Wahai Abu Abdillah, aku akan pulang ke negeriku, tolong berikan jawaban atas permasalahan yang aku sampaikan"

Imam Malik berkata,

 "Masya Allah saudaraku, ketahuilah, aku hanya berbicara tentang sesuatu yang kupandang baik. Sementara aku tidak menguasai masalahmu ini dengan baik"

Salah seorang kawannya yang merupakan syaikh di Mesir pernah menegur Imam malik dengan mempertanyakan sikapnya yang kerap mengecewakan banyak utusan yang datang dari berbagai negeri untuk sekedar meminta fatwanya, sebab ia sering menjawab, "Aku tidak tahu". Imam Malik menjawab,

"Orang Syam datang kepadaku dari Syam, orang Iraq datang kepadaku Iraq, orang Mesir datang juga kepadaku. Mereka semua bertanya kepadaku tentang sesuatu yang boleh jadi pendapatku berubah setelah mereka kembali ke negerinya masing-masing. Bagaimana aku menyampaikannya lagi setelah mereka pergi?"

Kisah diatas bukan menuduh bahwa Imam malik adalah seorang ulama yang bodoh karena banyak masalah dalam agama yang tidak dikuasainya. Namun sikapnya di atas semata-mata menandakan kehati-hatian Imam malik dalam berfatwa. Kehati-hatian yang luar biasa. Sebab berfatwa bukan urusan main-main

Bagaimana mungkin Imam malik disebut bodoh, padahal beliau dijuluki Imamnya Kota Madinah, beliau menjadi mufti masjid Nabawi sejak usia belia yaitu 20 tahun

Imam Malik menjadi mufti di kota Rasul itu selama 60 tahun lebih. Kedudukan ini tidak mungkin diperoleh melainkan oleh orang yang memiliki keutamaan ilmu di atas orang lain

Dengan sikapnya yang banyak berhati-hati dalam berfatwa, Imam malik mengajarkan setiap orang yang dititipkan ilmu untuk berfikir mendalam sebelum berbicara


Apalagi dalam masalah hukum. Orang yang terburu-buru menjawab soal yang ditujukan kepadanya, berarti dia itu sok pintar atau orang ceroboh. Adapun hari ini, di saat ilmu agama dipelajari hanya kulitnya saja, ahli agama yang faqih semakin langka, betapa mudahnya kita menjawab pertanyaan menyangkut agama.

Semudah kita membalikkan telapak tangan. Padahal, sering kali masalah itu adalah masalah pelik yang butuh referensi mendalam dari ulama yang berkompeten. Tidak sedikit oknum yang memiliki keahlian retorika, punya banyak jamaah, masyhur di khalayak ramai, sudah merasa diri alim dalam agama. Akhirnya merasa diri pantas jadi rujukan. Jika demikian, tentu merasa gengsi mengatakan tidak tahu jika ditanya ini dan itu.
Baru saja menganggap diri tokoh atau idola sudah berani berfatwa sesuai selera pribadi. Argumen yang dipakai semata-mata 'menurut saya'. Logika sempit jadi acuan. Kaedah agama tidak dihiraukan. Malah fatwa ulama yang kredibel kerap dilecehkan. Jadilah orang awam dan khalayak menjadi korban

Imam Daril hijrah yaitu Imam malik sendiri pernah diajukan 48 pertanyaan kepadanya, lalu hanya 16 sja yang dijawabnya. Sisanya beliau mengatakan "aku tidak tahu". Bahkan Imam Malik berkata, 

"Seyogyanya seorang ulama mewariskan ucapan aku tidak tahu". Mengapa beliau sampai sedemikian hati-hatinya? Beliau menjawab, "Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku dibanding saat aku ditanya tentang perkara halal dan haram. Karena itu berarti memberi kepastian akan hukum Allah. Dan kita menjumpai ulama di negeri kita yang apabila ia ditanya tentang masalah agama seolah-olah ia berada di ambang kematian"

Kehati-hatian dalam masalah fatwa atau agama sangat penting. Fatwa tidak boleh dipermainkan, menjadi komoditas politik, apalagi demi keuntungan "receh" duniawi lain. Kita dilarang bebicara panjang lebar sesuatu yang tidak kita kuasai. Karena sudah pasti akan lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Itulah pelajaran berharga yang diwariskan Imam Malik kepada kita semua
Oleh : TGH. Habib Ziadi, M.PdI
Pengasuh PP Darul Muhibbin
NW Mispalah Praya, Lombok Tengah

0 comments

Post a Comment