Memohon Pertolongan Kepada Nabi Tidak Ada Perbedaan Antara Hidup & Mati

Apabila seorang berkata bahwa memohon bantuan kepada nabi SAW, mengadukan keadaan memohon syafat dan pertolongan kepada beliau dan segala sesuatu yang sejenisnya hanya bisa dilakukan di saat beliau masih hidup

Adapun jika dilakukan sesudah beliau meninggal merupakan tindakan kufur. Kadang dengan toleran ia mengatakan tidak disyariatkan atau tidak boleh.


"Memohon bantuan dan tawassul apabila faktor yang melegalkannya adalah hidup sebagaimana pandangan mereka maka para Nabi dalam kondisi hidup dalam kubur mereka. Para hamba Allah yang diridloi juga hidup dalam kubur mereka seperti halnya Nabi"

Seandainya seorang pakar fiqh tidak menemukan dalil atas keabsahan tawassul dan memohon bantuan kepada beliau sesudah wafat kecuali dianalogikan dengan tawassul dan memohon bantuan kepada beliau sewaktu masih hidup niscaya hal ini cukup.

Karena beliau SAW hidup di dunia dan akhirat, senantiasa memberikan perhatian kepada ummatnya, mengatur urusan-urusan ummatnya atas seizin allah, mengetahui kondisi ummatnya, disampaikan kepadanya shalawat dari ummatnya yang menyampaikan shalawat dan sampai kepada beliau salam mereka meskipun jumlah mereka banyak

Orang yang pengetahuannya luas mengenai arwah dan keistimewaan yang dimilikinya, apalagi arwah orang-orang yang luhur maka hatinya lapang untuk mengimani kehidupan arwah di alam barzakh. Lalu bagaimana dengan ruh dari segala arwah dan cahaya dari segala cahaya, yakni Nabi kita Muhammad SAW

Seandainya memohon syafat, meminta bantuan atau tawassul dengan beliau dikategorikan syirik dan kufur sebagaimana anggapan mereka maka hal itu tidak akan dibolehkan dalam kondisi apapun baik dalam kehidupan dunia, akhirat, pada hari kiamat atau sebelumnya. Karena tindakan syirik dimurkai Allah dalam situasi apapun

Klaim Sesat

Adapun klaim bahwa orang mati tidak mampu melakukan apapun maka hal ini adalah klaim yang salah. Karena jika pandangan ini dikarenakan golongan wahabi meyakini bahwa orang mati telah menjadi tanah, berarti pandangan ini adalah substansi kebodohan terhadap hadits nabi SAW

Bahkan firman Allah yang menetapkan adanya kehidupan arwah dan kekekalannya setelah berpisah dari jasad, dan panggilan Nabi terhadap arwah pada perang Badr.
"Wahai.. Amr ibn Hisyam ! Wahai .. Utbah ibn Raiah, wahai fulan ibn fulan ! Sungguh kami menemukan janji Tuhan kami benar adanya. Apakah kalian menemukan janji Tuhan kalian benar adanya? Tanya Nabi. Seseorang bertanya, "Mengapa engkau memanggil-manggil orang-orang mati?"Kalian tidak lebih mendengar terhadap ucapanku daripada mereka", jawab nabi

Salah satu fakta adanya kehidupan arwah adalah :
  • Tindakan beliau SAW memberi salam dan panggilan beliau kepada penghuni kuburan. "Asslamu alaikum, wahai penghuni kubur," sapa beliau
  • Siksa dan kenikmatan kubur, datang dan perginya arwah dan lain sebagainya dari banyak dalil yang datang dibawa Islam dan ditetapkan oleh filsafat klasik dan modern

Apakah golongan garis keras meyakini bahwa orang-orang yang mati syahid itu hidup di sisi Tuhan mereka, sebagaimana dinyatakan Al-Qur'an, atau tidak? Jika jawaban mereka tidak, maka tidak ada lagi diskusi antara kami dan mereka sebab mereka telah mendustakan Al-Qur'an, dimana kitab suci ini mengatakan
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup [100], tetapi kamu tidak menyadarinya" Al-Baqarah 154

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup [248] disisi Tuhannya dengan mendapat rizki" Ali-Imron 169.169

Jika mereka meyakini kehidupan orang-orang yang mati syahid maka kami katakan kepada mereka bahwa para Nabi dan orang-orang muslim yang shalih yang tidak berstatus syuhada seperti sahabat-sahabat senior itu tidak diragukan lagi lebih utama dari para syuhada.

Jika fakta menunjukkan syuhada itu hidup maka adanya kehidupan bagi orang-orang yang lebih utama daripada mereka lebih layak, di samping bahwa kehidupan para Nabi di alam kubur telah ditegaskan dalam hadits-hadits shahih

Jika kami katakan bahwa ketika kehidupan arwah telah dibuktikan bedasarkan dalil-dalil qath'i maka tidak ada ruang bagi kita setelah terbuktinya kehidupan arwah tersebut kecuali menetapkan spesifikasi-spesifikasinya.

Karena adanya hal yang dilazimkan (malzum) menetapkan adanya yang melazimkan (lazim) sebagaimana meniadakan hal yang melazimkan menetapkan tidak adanya hal yang dilazimkan, sebagaiman telah diketahui

Secara logika, faktor apa yang menghalangi memohon pertolongan dan bantuan kepada Allah lewat arwah para Nabi sebagaimana seseorang meminta bantuan dengan malaikat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya atau sebagaimana seseorang memohon pertolongan kepada yang lain. (Engkau disebut manusia sebab ruh bukan jasad fisik)

Aktivitas arwah sama dengan aktivitas malaikat, tidak membutuhkan sentuhan dan alat. Tidak seperti ketentuan-ketentuan dalam aktivitas kita yang telah diketahui. Karena aktivitas arwah terjadi pada alam lain

Apa yang mereka fahami tentang aktivitas malaikat jin di alam ini?, tidak ragu lagi bahwa arwah, dengan keterlepasan dan kebebasannya membuatnya mampu menjawab orang yang memanggilnya dan menolong orang yang meminta bantuan kepadanya persis seperti orang hidup. Kemampuan arwah justru melebihi orang hidup

Jika golongan Wahabi tidak mengetahui kecuali hal-hal yang terindera dan tidak mengakui kecuali hal-hal yang kasat mata maka ini adalah karakter para naturalis bukan kaum mukminin

Bagaimanapun kami mengalah mengikut dan setuju dengan pandangan mereka bahwa arwah setelah terlepas dari raga tidak mampu melakukan apapun, namun kami katakan kepada mereka jika diandaikan demikian dan kami setuju dalam rangka diskusi maka kami tegaskan bahwa bantuan yang diberikan para Nabi dan Wali kepada orang-orang yang memohon bantuan bukan dikategorikan aktivitas arwah di alam ini

Tetapi bantuan mereka terhadap orang-orang yang berziarah atau memohon bantuan lewat mereka dengan mendoakan sebagaimana orang shalih mendoakan orang lain. Maka yang terjadi adalah doa dari orang yang unggul untuk orang yang diungguli atau minimal doa seorang saudara kepada saudaranya

Dan sungguh engkau mengetahui bahwa para Nabi dan Wali itu hidup, memiliki kesadaran, kepekaan dan pengetahuan. Malah kesadaran mereka lebih sempurna dan pengetahuan mereka lebih luas setelah terlepas dari raga karena lenyapnya penghalang tanah dan perselisihan-perselisihan ambisi manusiawi

Dalam sebuah hadits terdapat keterangan bahwa amal perbuatan kita disampaikan kepada beliau Rasulullah SAW. Jika beliau menemukan kebaikan beliau akan memuji Allah dan sebaliknya jika menemukan keburukan beliau akan memohonkan ampunan buat kita

Boleh kita katakan bahwa yang dimintakan dan dimohon bantuannya adalah Allah namun si pemohon memohon kepada Allah dengan menggunakan perantara Nabi agar keinginannya dikabulkan Allah

Berarti pelaku yang memberikan bantuan adalah Allah, namun pemohon ingin memohon kepada Allah lewat sebagaian orang-orang yang dekat dan mulia di sisi-Nya. Seolah pemohon mengatakan "Saya salah satu pecinta atau pengikut orang yang dekat dan mulia di sisi-Mu maka rahmatilah aku berkat dirinya". 
Dan Allah bakal memberi rahmat kepada banyak orang berkat Nabi SAW dan figur lain dari para Nabi, Wali dan Ulama

Walhasil, kemuliaan yang diberikan Allah kepada para pecinta nabi karena nabi, juga kemuliaan yang diberikan-Nya kepada sebagian hamba karena sebagian hamba yang lain adalah hal yang telah diketahui. Sebagian dari hal di atas adalah mereka yang mensalati mayit dan memohon kepada Allah agar Dia memuliakan mayit dan mengampuninya karena mereka dengan mengatakan: Dan kami telah datang kepada-Mu sebagai pemberi syafaat maka terimalah syafaat kami

Oleh : K.H. Kamal Muhlis Al Maliki, Sekretaris Umum Hai'ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah

0 comments

Post a Comment