Pedagang Niat Yang Lillahita'ala

Teringat momen percakapan penulis dengan orang tua penulis via telepon kala penulis masih menuntut ilmu di Mekkah, saat itu sedang membicarakan perihal buku penulis yang naik cetak. Di tengah perbintcangan kami, beliau bertanya pada penulis,
"Apa kamu menerima royalti dari tulisanmu?" Penulis jawab, iya



Beliau kemudian memberi pesan yang bagi penulis pribadi sangat penting,
"Ingat, jangan menoleh ke dunia, tetap terus menulis Lillah, nanti dunia yang akan mengejarmu jika kamu tidak menolehnya".
Dan pesan itu tentu saja penulis simak dalam-dalam serta penulis iyakan dan penulis insya Allah kan serta penulis meminta didoakan berkali-kali agar Allah selalu menjaga hati penulis
http://blogkaruhun.blogspot.com/2015/06/ramadhan-momen-meraih-pahala-melimpah.html
Sorenya seolah telah diatur, pesan itu semakin menancap kuat saat penulis sedang bersama Guru Besar Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliky, di majlis beliau. Ternyata beliau memberi pesan yang sama persis, bahwa jika kita telah menerjunkan diri ke dunia dakwah, atas nama apapun, maka jangan sekalipun menoleh ke dunia, jangan mengharap salam tempel atau sejenisnya,

Niscaya nanti dunia yang justru akan datang kepadamu tumpah ruah tanpa kamu minta,
"Atatkad dun-ya roghimah"
Sebab jika kamu menolehnya, justru dia akan lari dan kamu yang mengejarnya, lelah sendiri nanti

Malamnya, iseng-iseng saja penulis membolak-balik sebuah kitab berjudul "Khowathir Syab", tulisan Ahmad as-Shgeiry. Lagi-lagi penulis terpaku di halaman yang membahas hal yang sama! Cinta Dunia

Disitu tertulis, bahwa di antara kaidah kehidupan utama yang telah diajarkan para bijak bestari adalah :
  1. Hidup itu penuh penderitaan
  2. Dan penderitaan ini terjadi sebab ketergantungan hati pada harta dunia, keinginan nafsu dan syahwat
  3. Untuk menghentikan penderitaan ini, maka harus memutus ketergantungan hati pada dunia
  4. Cara untuk memutus ketergantungan hati pada dunia adalah :
  •   Memahami dengan baik hakikat dunia dan ketidakkekalannya
  •   Kontrol yang baik terhadap pikiran
  •   Kontrol yang baik terhadap lisan
  •   Kontrol yang baik dalam pengalokasian harta
  •   Banyak merenung dan mengasingkan diri

Sedangkan para pendidik hati dan jiwa dari Ulama' ummat Islam, telah menyimpulkan tiga garis besar tentang efek negatif dari ketergantungan hati manusia terhadap dunia :
  • Kesibukan yang tak akan ada hentinya
  • Stress tingkat tinggi yang tak akan pergi
  • Rasa tidak puas yang tak akan pernah hilang

Sementara Rasul telah memperingatkan dalam sabdanya, bahwa tak akan memenuhi perut manusia kecuali debu. Peringatan kehidupan yang lain adalah pangkal segala kesalahan dalam hidup adalah kesibukan mengejar dunia
Lantas kalau begitu yang dituntut dari kita adalh menginggalkan dunia secara total dan menjauhinya? Hidup di Masjid Saja? Jawabannya adalah : Tidak, sama sekali, justru sebaliknya, yaitu kita dituntut untuk sukses di kehidupan dunia ini, selalu mampu berinovasi dan memberikan yang berbaik di bidang apapun yang kita tekuni.

Hanya saja semua itu dengan niat untuk kebaikan akhirat kita dan mengumpulkan poin poin pahala. Kita makan minum dengan niat bersyukur kepada Allah atas segala anugerah-Nya ... Kita tidur dengan niat mengistirahatkan tubuh sejenak agar segar kembali fresh untuk beribadah menyembah Allah di hari berikutnya


Kita bekerja dengan niat memakmurkan dan mengelola bumi yang diamanatkan oleh Allah kepada kita sebab kita dijadikan khalifah atasnya, juga dengan niat gagar mampu membantu orang-orang yang butuh dan bisa menyisakan harta untuk bersedekah

Kita menikah dengan niat menjaga image dan diri dari hal yang diharamkan syariat dan tercela secara moral

Kita bertemu sahabat-sahabat kita, ngorbrol dengan mereka sembari berniat merajut persaudaraan Fillah ...

Kita belajar tekun dan serius di jurusan kita masing-masing dengan niat ikut sabda Nabi, bahwa sesungguhn ya Allah suka terhadap seseorang yang jika mengerjakan sesuatu, dia profesional dengan pekerjaanya itu (innallaha yuhibbu idza amila ahadukum amalan an yutqinahu)
Jika kita beli gadget baru misalkan kita hubungkan pembelian itu dengan ayat (wa amma bi ni'mati Robbika fa haddits), adapun akan nikmat Tuhanmu, maka certakanlah ...

Kita beli baju baru yang bagus kita hubungkan dengan arahan Nabi bahwa Allah itu Dzat Yang Maha Indah dan Menyukai segala hal yang indah (Innallaha Jamil Yuhibbul jamal). Dan  seterusnya.

Alhasil semua di atas tadi, rahasianya adalah pada niat, dan niat tempatnya di hati. Karena bisa jadi semisal ada dua orang sama-sama menghabiskan waktu untuk belajar di jurusan yang sama, sangat giat, bersama mengerahkan seluruh talenta demi meraih cita-cita, hanya saja yang satu mencari ilmu hanya untuk orientasi dunia, agar dapat pekerjaan, takut tidak makan di masa depan nanti, dengan penuh rasa tawakkal lillah. Alangkah jauhnya jarak antar keduanya di mata Allah meski secara fisik yang dilakukan oleh keduanya sama. Sekali lagi rahasia semua itu ada di hati.

Seperti yang pernah penulis tuliskan di buku penulis, "Catatan Cinta dari Mekkah" (JEndela, 2012), mengutip perkataan para ulama;bahwa sebenarnya zuhud itu bukan karena kita menginggalkan dunia, tetapi zuhud yang hakiki adalah kita memegang harta dunia dan hati kita tidak tergantung sama sekali kepada harta itu
Bahasa jawa-nya, ora eman, tur ora kuatir kente'an. Tidak sayang dengan harta dan tidak takut kehabisan

Dan di antara doa orang-orang shaleh :
"Ya Allah, jadikan harta dunia ini cukup di tanganku, dan jangan jadikan ia di hatiku"
Akhir catatan, yang terpenting sekarang adalah mengatur niat kita, agar apapun yang kita lakukan bernilai ibadah. Mengutip istilahnya Da'i internasional, Amru Khaled, kita harus bisa menjadi pedagang niat, Tujjar-un Nawaya ....(*)
Oleh : KH. Alawy Ali Imron
Staf BPP FLP, Alumnus Masyru'
Al-Maliky, Rusaifah (2004-20014

0 comments

Post a Comment