Urgensitas Sanad Keilmuan

Kemuliaan Umat Islam Dengan Konsep Sanad

Allah Subhanahu Wata'ala memuliakan umat Islam dengan beberapa keistimewaan yang besar yang tidak diberi kepada umat manusia selain mereka. Di antara keistimewaan umat Islam akhir zaman ini adalah, Allah s.w.t. memberi jaminan untuk menjaga mereka (Umat Islam)

Allah memelihara umat Islam daripada kesesatan dengan memelihara institusi ulama' mereka yang terlibat dalam menjaga sumber ajaran Islam dan pemahaman-pemahamannya yang sahih. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Allah menjaga ajaran islam dari sudut sumbernya, cara memahami sumber secara sahih dan pemahaman sahih terhadap sumber-sumber tersebut melalui para ulama' yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai Ahl Az-Zikr yang perlu dirujuk oleh orang-orang awam daripada "berkumpul" dalam kesesatan

Keistimewaan ini bertolak daripada suatu keistimewaan asas lain yaitu konsep "Isnad" atau sandaran dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sesuai dengan maksud hadits nabi  Shallallahu 'Alaihi Wasallam-yang menyebutkan bahwa :
 "Para ulama' adalah pewaris para Nabi ..",
maka sudah tentulah ilmu Nabawi itu diterima oleh para ulama' secara "pewarisan". Dalam konsep "pewarisan" dalam tradisi pembelajaran ilmu agama inilah adanya konsep atau dikenal dengan tradisi "sanad" atau sandaran

Urgensitas Dalam Memilih Guru

Dr. Yusuf Abdul Rahman berkata dalam muqoddimah tahqiq kitab Al-Majma' Al-Mua'assis yang dikarang oleh Imam Ibnu Hajar, sebagai berikut :
"Adapun di antara sudut terpenting dalam kitab ini adalah berkenaan dengan Manhaj Islami dalam ilmu-ilmu yang mengikut manhaj As-Salaf As-Sholeh, yang tampak dalam bentuk talaqqi ilmu-ilmu dari para ulama', membaca kitab-kitab di hadapan mereka, mendapatkan ilmu daripada mereka dan mengembara kepada merkea untuk tujuan tersebut, untuk mendapatkan ketinggian sanad, kejernihan ilmu, kesejahteraan daripada salah, kesesatan dan hawa".
"Hendaklah bagi penuntut ilmu memilih seorang guru yang bisa membacakan kitab kepadanya, yang mana guru tersebut dinilai berdasarkan dia pernah membaca ilmu tersebut daripda guru-gurunya dengan syarat yang muktabar di sisi para ulama'.

Begitu juga, para gurunya membaca ilmu tersebut daripada guru-guru mereka. Begitulah seterusnya, bersambung sanad tersebut sampai kepada sumber cahaya dan ilmu dan petunjuk kemanusiaan yaitu Rasulullah SAW

"Inilah cara sebenarnya dalam menuntut ilmu. Karena, ilmu itu dengan belajar dan tidak diambil melainkan dengan bertalaqqi daripada mulut para ulama' dengan menghadiri majlis-majlis ilmu, bersahabat dengan para ulama' dan sebagainya". [Muqoddimah Tahqiq bagi Al-Majma'A-Mu'assis 10]\

Sanad Keilmuan Merupakan Ruh Agama

Maka sanad atau isnad merupakan bagian terpenting dalam agama Islam. Kemurnian ajaran agama Islam dapat terjaga melalui sanad keilmuan dari seorang guru ke guru, dan munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Dan sanad atau isnad inilah yang tidak dimiliki selain Ahlus sunnah waljama'ah

Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik berkata :
"Isnad/sanad merupakan bagian dari agama, dan apabila tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin ia katakan"

Sufyan Ats-Tsauri berkata :
"Sanad/ isnad adalah senjata orang mukmin, jika ia tidak memiliki senjata maka dengan apa ia berperang?"

Akibat Tidak Mempertahankan Sanad

Munculnya banyak paham-paham menyimpang dan sesat, kebanyakan ditimbulkan karena tidak memperhatikannya masalah sanad ini. Sehingga kadang kita ketahui, ada seseorang yang belajar dari sebuah buku terjemahan saja atau mungkin dari sebuah situs di internet yang tidak jelas,

Kemudian orang tersebut memahaminya dengan pemikirannya yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya. Maka pemahamannya tersebut telah menyesatkan dirinya dan bahkan orang lain

Generasi muslim periode awal merupakan generasi yang sangat memperhatikan masalah periwayatan. Perhatian mereka dalam masalah ini begitu besar baik periwayatan al-Quran dan metode bacaannya, periwayatan hadits, fiqih, nahwu maupun berbagai disiplin ilmu lainnya. Hal ini tampak jelas dalam kitab karangan mereka
Semakin dangkal ilmu seseorang, maka tentunya ia semakin mudah berfatwa dan menghukumi, semakin ahli dan tingginya ilmu seseorang, maka semakin ia berhati-hati dalam berfatwa dan tidak ceroboh dalam menghukumi

Dari dangkalnya keilmuan tersebut, hasilnya nampak dalam keseharian banyak orang yang mengandalkan egonya hingga terasa berat baginya untuk mencucapkan salam, apalagi menyebarkan senyum yang ramah padahal merupakan akhlak Islam, jadi pendidikan sangatlah besar pengaruhnya di hati seseorang, seorang anak akan mengikuti perilaku orang tuanya dan gurunya, bila pendidikannya salah kelak di kemudian hari ia akan menjadi peribadi yang buruk

Suatu kali al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad mendengar cerita tentang sebagian orang yang bersikap lancang dalam majelis, beliau berkata :
"Ini lantaran ia tidak mendapat pendidikan yang benar, kalau ia tidak mendapat pendidikan yang benar mana mungkin ia bisa mendidik anaknya?"

Tradisi Sanad

Tradisi "Sanad" ini adalah suatu intipati utama dalam sistem pembelajaran ilmu agama sejak generasi awal Islam. Yaitu, setiap guru yang mengajar ilmu agama kepada murid-muridnya mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas terutamanya silsilah guru-gurunya yang mengajarnya ilmu agama tersebut.

Begitu juga, guru-gurunya (kepada guru tersebut) juga mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas yaitu mempunyai guru-guru yang mengajar mereka ilmu agama kepada mereka. Para guru kepada gruu-guru tersebut juga begitu

Begitulah bersambung silsilah "berguru" itu sampai kepada para sahabat yang mana para sahabat mengambil ilmu agama daripada Rasulullah SAW. Inilah gambaran umum konsep "Sanad" dalam tradisi pembelajaran ilmu agama. Mereka yang mempelajari ilmu-ilmu agama melalui sistem dan tradisi yang asal ini tidak terpisah daripada konsep "Sanad" ini. dan tidak terpisah daripada tradisi pembelajaran ilmu agama secara asal yang diambil daripada generasi salaf.
Cuma, setelah muncul sistem pembelajaran dengan metode Barat, ilmu-ilmu agama diajarkan dalam bentuk dan acuan Barat di institusi-institusi pengajian yang tidak mempunyai sanad keilmuan dalam bidang agama secara jelas.

Maksudnya, para guru (atau pensyarah) yang mengajar ilmu-ilmu agama dalam institusi-institusi tersebut tidak mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas daripada para ulama' dan tidak mempunyai sanad keilmuan

Maka mereka yang mengajar ilmu-ilmu agama dalam institusi-institusi tersebut tidak mempunyai sanad keilmuan akhirnya menyebabkan murid-murid yang belajar ilmu-ilmu agama di institusi tersebut juga tidak mempunyai sanad keilmuan

Dr. Yusuf bin Abdul Rahman berkata dalam Muqoddimah Tahqiq bagi Al-Mu'jam Al-Mu'assis:
"Tatkala ilmu diambil daripada pemegang buku buk (syahadah) bukan daripada pemegang ijazah-ijazah (sanad keilmuan dan ijazah tadris;mengaji), maka rendahlah derajatnya, terpelesetlah penuntunnya daripada kualitas sebenarnya dan terpeleset daripada jalan (tradisi) sebenarnya maka kembalilah kepada halaqah ilmu dan para 'ulama' yang memiliki ijazah (sanad) sebelum kita mencari mereka lalu sudah tidak menemui mereka lagi (para ulama' yang memegang sanad ilmu dan ijazah tadris). Kembalilah kepada membaca kitab-kitab di hadapan para ulama' yang mempunyai sanad yang bersambung agar kita menjadi pemikul ilmu yang berkualiti, lalu menyampaikannya kepada generasi setelah kita. Kalau tidak, maka terputuslah sanad-sanad, sedangkan kita sudah mensia-siakan ilmu-ilmu kita, dan dengan demikian (terputusnya sanad ilmu) kita (para penuntut ilmu yang menjadi ulama') bertanggung jawab di hadapan Allah" [:9-10]

Warisan Nabawiyyah

Ilmu-ilmu agama ini adalah ilmu warisan Nabawi yang mempunyai manhajnya yang asli dan tersendiri. Sistem inilah sebenarnya yang terus menjaga ilmu-ilmu agama dari sudut Riwayah dan Dirayah hingga hari ini. Untunglah bagi para penuntut ilmu yang mengambil ilmu-ilmu agama daripada tradisi pembelajaran yang sebenarnya ini, dan rugilah mereka yang terpisah daripada tradisi ini sehingga bila ditanyakan kepada mereka tentang sanad keilmuan, maka mereka akan terpinga-pinga tanpa mengetahuinya

Para ulama' yang masih mempertahankan dan mengembangkan tradisi ini masih ada dan masih mempunyai majlis ilmu yang meluas di seluruh dunia. Mereka ini biarpun terlindung oleh sistem pembelajaran versi modern, namun para penuntut ilmu yang menyadari nilai sebenarnya yang mereka wariskan terus berguru dengan para ulama' ini

Ini karena, manhaj As-Salaf yang sebenarnya dikembangkan melalui tradisi talqqi bersanad ini, bukan hanya pada slogan dan dakwaan sebagaimana dilakukan oleh sebagian pihak. Besar harapan, semoga kita tergolong orang-orang yang sangat memperhatikan sanad keilmuan ini, hingga ilmu dan amal kita bisa lebih dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, Aaamiin

Wallahu 'Alam Bish Shawab
Oleh : Ust. Irwan Sani, S.E. MPdI

0 comments

Post a Comment