Wawasan Beribadah Secara Berlebihan

Kaum muslimin memiliki banyak figur teladan yang bisa dijadikan sebagai contoh dalam aspek kekuatan dan keistiqamahan mereka dalam beribadah dengan kualitas dan kuantitas yang sulit ditiru oleh ummat Islam sekarang.
Di antara mereka dari kalangan sahabat adalah 'Utsman bin 'Affan yang berpuasa sepanjang tahun, hanya tidur sejenak di malam hari dan mampu mengkhatamkan Al Qur'an dalam satu raka'at shalat, Umar bin Khatthab, 'Abdullah bin 'Umar dan Syaddad bin Aus yang menghidupkan malam dengan beribadah semalam penuh hingga tidak tidur

Dari generasi tabi'in di antara mereka adalah 'Umair bin Hani' yang bertasbih dengan jumlah ribuan per hari, 'Amir bin 'Abdillah bin Qais yang mewajibkan dirinya untuk melaksanakan shalat 1000 rakaat dalam sehari semalam, Sa'id bin Musayyib yang melaksanakan shalat shubuh dnegan menggunkan wudhu' shalat 'Isya" selama 50 thaun

Dari generasi pasca tabi'in di antara mereka adalah Sa'd bin Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf Azzuhri yang berpuasa sepanjang tahun dan mengkhatamkan Al Qur'an setiap hari, dan Imam Syafi'i yang mengkhatamkan Al Quran sekali sehari dan pada bulan Ramadhan mampu mengkhatamkan Al Quran 60 kali seluruhnya dilakukan saat shalat. Inilah sebagian kecil dari para figur panutan kaum muslimin yang mampu melakukan ibadah dalam lever luar biasa
Bagi kalangan awam yang menilai bahwa aktivitas ibadah yang dilakukan oleh figur figur di atas itu tidak masuk akal, Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dalam Manjahjussalaf menjawab bahwa hal itu bukan sesuatu yang tidak rasional dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan sprirtual dengan Allah (Ahlullah) sebab mereka telah dikarunia Allah kekuatan malaikat sehingga mampu melaksanakan ibadah hingga mencapai level yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa. Fakta ini tidak mungikin ditolak kecuali oleh orang yang mengingkari adanya karamah dan hal-hal yang terjadi di luar kebiasaan normal (Khariqaul 'Adah).

Menyangkut beribadah hingga pada level yang memberatkan terdapat banyak hadits yang secara tekstual menunjukkan larangan untuk mengerjakannya. Salah satunya adalah sabda beliau yang ditujukan kepada Al Kahual' binti Tuwait yang tidak pernah tidur malam, yang aritnya,
"Engkau tidak tidur malam? .. Ambillah dari amal, apa yang engkau mampu melaksanakannya. Demi Allah, Alalh tidak akan merasa bosan hingga engkau merasa bosan"
Terkait larangan melakukan ibadah secara berlebihan dan memberatkan ini maka Al 'Allamah Al BArkaly dalam kitabnya Atthariqah Al Muhammadiyyah memaparkan kajian yang mampu mengkompromikan kontradiksi antara hadits-hadits yang melarang ibadah secara berlebihan dan memberatkan dengan aktivitas ibadah generasi salaf yang laur biasa sebagaiman telah disebutkan di muka.

Beliau menyatakan bahwa larangan beribadah secara berlebihan dan memberatkan itu didasari dua alasan :
  • Pertama : bisa mengakibatkan kematian, mengabaikan hak orang lain yang wajib diberikan, meninggalkan ibadah atau berhenti melanggengkannya.
  • Kedua : Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam dan beliau diberi keteguhan oleh Allah sehingga memiliki kekuatan melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh individu-individu ummat beliau.

Beliau juga adalah manusia paling bertakwa kepada Allah dan paling mengenal-Nya (ma'rifah). Karenanya tidak mungkin muncul sikap kikir, mengabaikan nasehat, menunda-nunda, bermalas-malasan dan kebodohan dalam urusan agama dari beliau. Jika dalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ada cara yang lebih utama dan lebih bermantaaf selain dari apa yang telah dilakukannya maka beliau pasti akan melakukannya, menjelaskan dan memotivasinya. Oleh sebab itu bisa ditegaskan bahwa apa yang beliau lakukan itu lebih utama dan lebih dekat untuk mengenal Allah.

Dari dua alasan ini bisa disimpulkan bahwa riwayat-riwayat yang menginformasikan ibadah berat yang dilakukan generasi salaf itu mungkin dilakukan untuk mengobati penyakit hati atau ibadah telah menjadi adat kebiasaan dan tabiat mereka laksana makanan bagi orang sehat.

Karenanya mereka bisa menikmati dengan nyaman ibadah berat tersebut tanpa mengabaikan hak, tanpa berhenti melanggengkannya dan tanpa keyakinan bahwa apa yang dilakukan mereka lebih utama dibanding yang telah dikerjakan atau diucapkan Rasulullah yang nota bene manusia paling.

Wallahu A'lam

0 comments

Post a Comment