Keutamaan Berbuat Baik

Keutamaan berbuat baik - Assayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani, telah menggoreskan sejumlah hadits-hadists Nabi demi memberikan dorongan kepada umat ini agar termotivasi, terinspirasi dan bersemangat dalam melakukan kebaikan. Diantara hadits-hadits itu ada yang shahih, dha'if. Meski begitu satu sama lain saling menguatkan karena memiliki satu titik tujuan yaitu berbuat baik kepada orang lain, salah satunya seperti contoh kisah dermawan Assayyid Muhammad Alawi pada halaman sebelumnya, bagaimana beliau berbagi sesuatu dengan ikhlas kepada orang yang telah menolongnya.

kebaikan ada dua perkataan dan perbuatan

Sudah tidak diragukan lagi, masyarakat Islam sanat membutuhkan sesuatu hal yang bisa menguatkan hbubungan dan mengikat antar individu di antara mereka. Kasih sayang dan cinta merupakan jalan surga dan pintunya yang terdekat akan bertambah dengan berbuat baik kepada orang lain, menolong orang yang kesusahan, mememnuhi kebutuhan, menghibur orang yang susah dan lain sebagainya seperti sabda Rasulullah SAW.

"Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Apakah aku akan menunjukkan kalian sesuatu yang apabila kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara mereka" HR Muslim.

Umat ini sesungguhnya telah melihat beliau Shallallahu alaihi wasallam menjadikan iman sebagai sebab masuk surga, menjadikan rasa cinta sebagai sebab masuk surga, menjadikan rasa cinta sebagai sebab kesempurnaan iman,

berbuat baik sebagai sebab terbesar kekuatan ukhuwah Islamiyyah dan menjadikannya kesemuanya sebagai pintu terdekat menuju kekuatan ikatan cinta di antara kaum muslimin, yang mendekatkan kaum beriman kepada saudara merea seiman. As Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki al Hasani telah mengumpulkan hadits-hadits tentang keutamaan berbuat baik ini dan memberikan catatan kaki (ta'liq) yang dibutuhkan,

sebagai usaha memberikan petunjuk dan arahan kepada kaum muslimin, dan dengannya untuk berbuat baik, menggunakan kesempatan yang ada, bersemangat menjalankannya dengan berbagai macam warna dan jalannya.

Hal itu karena kebanyakan manusia menyangka bahwa berbuat baik hanya bisadilakukan dengan harta benda. Karena inilah banyak kebaikan terlewat dari mereka. Dari sinilah kemudian muncul keinginan dan rasa senang kami untuk menjelaskan bahwa sebenarnya pintu-pintu kebaikan itu banyak, jalan-jalan kebaikan itu luas hingga tiada alasan bagi kita kecuali harus menghadapinya dengan semangat, ikhlas dan serius, sebab kunci penerimaan Allah (Qabul) adalah kejujuran bersamaNya.

Jika kejujuran itu ada, maka hal kecil akan menjadi besar dan sedikit akan menjadi banyak serta tertinggal akan menjadi yang terdepan, "Itulah anugerah dari Allah dan cukuplah Allah sebagai Dzat Maha Mengetahui"

Disini Abuya al Maliki al Makki tidak berkonsentrasi kepada hukum suatu hadits dan penjelasan akan derajatnya. Bukan karena lupa atau membiarkannya, tetapi karena semua hadits-hadits berada dalam satu cakrawala.

Sehingga hadits yanng kuat bisa mendukung yang lemah, sementara yang lemah masih layak untuk dijadikan pertimbangan. Disini kita yang awam takkan disibukkan dengan berfikir tentang jenis ilmu, yang pada akhirnya justru memalingkan perhatian kepada hal yang lebih penting yang seharusnya kita usahakan dan kita jadikan tujuan, yaitu berbuat kebaikan kepada orang lain. Sayyid Muhammad bin Alawi menuliskan tentang macam kebaikan beserta syarat-syaratnya agar kemudahan bagi kita untuk memahami dan tidak terkungkung dalam wawasan yang sempit akan definisi sebuah kebaikan.

Macam Kebaikan

Kebaikan (al Ma'ruf) ada dua macam; ucapan dan pekerjaan. Ucapan adalah seperti mengucapkan hal hal yang baik dalam pergaulan dan usaha menumbuhkan rasa kasih sayang, dengan ucapan yang baik yang terdorong atau sebagai reaksi kebaikan budi pekerti dan watak yang lembut. Tetapi tidak boleh berlebihan yang akhirnya menjadi tercela (tidak terpuji). Jika bermadya atau berada tengah-tengah, maka itu adalah kebaikan yang terpuji. Dalam hikmah dinyatakan :

Barang siapa kurang bergaul maka kurang pula orang - orang yang menyukainya

Amal adalah mendermakan kedudukan, menolong dengan sepenuh jiwa dan memberikan bantuan saat kesusahan. Motivasi semua itu adalah rasa suka bila orang lain mendapatkan kebaikan, dan mendahulukan kebaikan untuk mereka. Dalam semua hal ini tdiak ada istilah berlebihan atau batasan puncaknya. Sebab meski banyak sekali yang dilakukan pada hakikatnya memberi dua manfaat; manfaat kepada orang yang melakukan yang berupa mendapat pahala dan sebutan baik dan manfaat bagi orang yang ditolong, berupa keringanan dan bantuan.

Syarat-Syarat Berbuat Baik

Perbuatan baik (Ma'ruf) memiliki beberapa syarat, dimana tanpa syarat-syarat ini ia tidak akan sempurna. Diantaranya menutup dan tidak menyebarluaskannya serta menyamarkannya. Sebagian ahli hikmah berkata :

"Jika telah berbuat baik maka tutupilah, jika mendapatkan perbuatan (perlakuan) baik (dari orang lain) maka sebarluaskanlah" sebab watak nafsu adalah menampakkan sesuatu yang samar dan memperlihatkan sesuatu yang tersimpan"

Diantaranya lagi adalah menganggapnya kecil ketika kamu melihatnya besar, menganggapnya sedikit ketika menurutmu banyak, agar kamu tidak meremehkan orang lain, sombong berbuat jahat dan bertimdak semena mena. Abbas berkata : 

"kebaikan tidak sempurna kecual dengan tiga hal : menyegerakkan, menganggapnya kecil dan menutupinya"

Diantaranya lagi adalah tidak mengungkit-ungkit dan tidak membanggakannya karena hal demikian akan menjatuhkan rasa syukur dan merusak pahala. Diantaranya lagi adalah tidak pernah sedikitpun menganggap remeh kebaikan meski itu sedikit atau sangat sedikit, sebab meski banyak itu dibutuhkan sementara kamu lemah (tidak bisa menjalankannya)

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Orang Lain Menjadi Milik Pelaku Dan Pemberi Petunjuk

Dari Ibnu Mas'ud Uqbah bin Amar al Anshori al Badri rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah bersabda :

"Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya sepadan pahala orang yang melakukan kebaikan itu" (HR. Ahmad Muslim Abu Dawud Tumudzi)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

Barang siapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala sepadan dengan pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya (dimana) pahala itu sama sekali tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa - dosa orang-orang yang mengikutinya (di mana) dosa itu sama sekali tidak mengurangi dosa-dosa mereka" (HR Ahmad - Muslim)

Maksud petunjuk dalam hadist tersebut adalah sesuatu yang menunjukkan kepada amal sholeh. Kata "Hudan" disini disebutkan dalam bentuk umum (Tankiir) agar mencakup segala bentuk petunjuk baik kecil maupun besar di mana yang paling besar ialah mengajak menuju Allah dan amal Sholeh sedang yang paling rendah adalah petunjuk berupa ajakan menyingkirkan rintangan dari jalan. karena inilah seorang ahli fiqih yang berdakwah memberi peringatan menjadi lebih mulia di bading seribu ahli ibadah sebab manfaatnya merata pada banyak orang dan masa-masa berikutnya sampai hari kiamat.

Catatan :
  1. Maksud petunjuk disini adalah sesuatu yang menunjukan kepada amal shaleh. Kata "Hudan" disini disebutkan dalam bentuk umum (Tankir) agar mencakup segala bentuk petunjuk baik kecil maupun besar dimana yang paling besar ialah mengajak menuju Allah dan alam shaleh sedang yang paling rendah adalah petunjuk berupa ajakan menyingkirkan rintangan dari jalan. Karena inilah seorang ahli fiqih yang berdakwah memberi peringatan menjadi lebih mulia di banding seribu ahli ibadah sebab manfaatnya merata pada banyak orang dan masa-masa berikutnya sampai hari kiamat. 
  2. Bahaa ini disebutkan agar tidak terjadi salah sangka bahwa pahala yang diterima penyeru/orang yang mengajak diambilkan dari pahala orang yang menjalankan
Sumber :  Majalah New Mafahim - Hai'ah Ash-Shofwah Al Malikiyyah


0 comments

Post a Comment