Memahami Akar Radikalisme ISIS

Radikalisme ISIS - Kekhawatiran terhadap radikalisme yang menjadi pemicu munculnya tindakan anarkhis dan teror kembali mengemuka seiring tertangkapnya beberapa orang yang diindikasikan terkait dengan ISIS (Negara Islam Iraq dan Suriah). Sebelumnya berita bergabungya beberapa WNI yang pergi ke Turki untuk bergabung dengan ISIS sempat ramai menghiasi berbagai media baik cetak maupun elektronik. Untuk menangkal radikalisme ini pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menekan perekmbangannya dengan melibatkan para ulama dan berbagai instansi. Pemerintah sangat sadar bahwa jika hal ini tidak diatasi dengan serius maka stabilitas keamanan negara akan menjadi taruhannya.

Lalu apa parameter fenomena radikalisme islam itu? Rahimi Sabirin menjelaskan bahwa radikalisme adalah pemikiran atau sikap keagamaan yang ditandai oleh empat hal yaitu :
  1. Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain
  2. Sikap fanatic, yaitu selalu merasa paling benar dan menganggap orang lain salah
  3. Sikap eksklusif, yaitu memisah-kan diri dari kebiasaan ummat Islam kebanyakan
  4. Sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. 
inilah gembong pimpinan islam irak suriah radikal
Gembong pemimpin ISIS

Dengan melihat empat indikator radikalisme ini sesungguhnya sangatlah tidak tepat jika Islam dianggap sebagai sumber ide radikalisme. Tuduhan keji ini hanyalah stigma yang muncul hanya karena para pelaku teror kebetulan beragama Islam dan menggunakan simbol-simbol Islam.

Akar Radikalisme

Dari paparan diatas bisa disimpulkan bahwa radikalisme bukan hanya terbatas pada aksi fisik tetapi mencakup juga ideologi yang aksi anarkis dan teror. Oleh karena itu, untuk mengatasinya tentu tidak cukup dengan menangkap para teroris yang terinspirasi oleh ideologi radikal, tapi harus dilakukan dengan mencabut akar ideologisnya. Sebab selama akarnya dibiarkan tetap hidup maka potensi munculnya tindakan radikal akan terbuka lebar. Dalam konteks ini Abuya Sayyid Muhammad 'Alawi dalam Al Ghuluw menegaskan bahwa salah satu akar dari radikalisme adalah konsep rububiyyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma' wasshifat. Sebuah konsep tauhid yang tidak dikenal oleh generasi sahabat, tabi'indan tabi'ittabi'in serta tidak pula bisa ditemukan dalam Al Qur'an dan hadits. Konsep ini laksana tongkat yang memporakporandakan ummat Islam, sebab ia bisa digunakan dengan mudah sebagai parameter untuk memvonis kafir mayoritas ummat Islam dan mengeluarkan mereka dari lingkaran tauhid secara gegabah tanpa pertimbangan matang.

Konsep tauhid yang telah diyakini bukan hanya oleh masyarakat awam tetapi juga oleh banyak ulama, pemikir dan sastrawan ini telah menimbulkan dampak yang luar biasa. Sebab dengan konsep ini banyak kelompok Islam yang dinilai kafir. Konsep tiga pembagian tauhid pada esensinya adalah pembagian terhadap tubuh ummat Islam dan pemenggalan terhadap ikatan-ikatan yang menyatukan mereka. Jika konsep ini diimplementasikan bisa dipastikan akan mengurangi secara drastis jumlah jama'ah haji dan para peziarah dua tanah suci. Sebab mayoritas para jama'ah haji dan para peziarah adalah kelompok yang di mata para pengusung konsep tauhid ini dicurigai telah melakukan tindakan syirik, penyembahan para wali, pengagungan keluarga Nabi dan menggunakan persepsi awam dalam menafsirkan sifat Allah yang boleh diinterpretasi (ta'wil). Padahal hal-hal seperti ini adalah amaliah yang masuk kategori khilafiyyah, bukan consensus ulama (ijma').


Oleh karena itu berangkat dari teori bahwa seluruh metode pemikiran keagamaan ilmiah harus siap ditinjau kembali untuk diperbaiki, dirubah dan diganti unsur-unsur cabang dan detail-detail ijtihadiyah yang berada dalam lapangan praktis, maka semua kalangan harus dilibatkan untuk mengkaji ulang, menyatukan persepsi dan berdiskusi. Mereka yang meyakini kebenaran konsep yang lahir dari proses ijtihad seperti tiga pembagian tauhid tersebut tidak boleh berasumsi bahwa konsep itu adalah dogma yang tidak bisa dibantah kebenarannya layaknya Al Qur'an dan hadits yang noba bene dua sumber primer hukum Islam. Dengan langkah ini akan muncul toleransi dari semua kalangan terhadap perbedaan pemahaman yang muncul ke permukaan.

Dampak Tiga Pembagian Tauhid

Golongan Wahabisme membagi tauhid menjadi 3 bagian yaitu :

1. Tauhid Uluhiyyah yang menegaskan bahwa hanya Allah semata pencipta seluruh mahluk
2. Tauhid Rububiyyah yang menyatakan bahwa hanya Allah saja yang berhak disembah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan
3. Tauhid Asma' dan Sifat yaitu mengesakan Allah dengan cara menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang ditetapkan sendiri oleh-Nya atau yang disebutkan oleh Rasul-Nya, tanpa mengilustrasikannya (takyif), menyerupakan dengan sesuatu (Tamtsil) menyimpangkan makna (tahrif) atau bahkan menolak nama atau sifat tersebut (ta'thil).

Lewat konsep tauhid ini golongan Wahabi menyamakan kaum muslimin yang mempraktekkan tawassul melalui media para nabi dan orang-orang shalih dengan orang kafir dengan alasan mereka hanya meyakini tauhid uluhiyyah namun tidak meyakini tauhid rububiyyah. Di mata Wahabi orang yang bertawassul dengan para nabi atau orang-orang shalih berarti telah keluar dari tauhid rububiyyah sebab menyekutukan Allah dengan yang lain. Ia tidak berbeda dengan kaum musyrikin yang meyakini eksistensi Allah sebagai Tuhan Pencipta semesta alam (Tauhid Uluhiyyah) namun tetap menyembah berhala.

Tindakan wahabi mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi dan orang-orang shalih dengan alasan telah menyekutukan Allah dengan yang lain sesungguhnya hal yang aneh sebab tawassul bukanlah penyembahan. Disamping banyaknya dalil yang bisa dijadikan keabsahan praktek tawassul, tawassul sesungguhnya bukan memposisikan para nabi dan orang-orang shalih sebagai obyek penyembahan atau yang mengabulkan hajat tanpa izin Allah. Para nabi dan orang-orang shalih hanyalah perantara agar doa kita dikabul Allah. Tentunya hal ini sangat jauh berbeda dengan tindakan orang kafir yang menyembah berhala lalu mengklaim bahwa hal itu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu menyamakan orang yang bertawassul dengan para musyrikin penyembah berhala jelas tidak tepat. Sedang konsep tauhid asma' dan sifat digunakan wahabi untuk menolak ta'wil atau interpretasi terhadap ayat-ayat mutasyabihat yang dilakukan para ulama ahlussunnah waljama'ah. Karena pemahaman yang cenderung literal ini mereka menyesatkan golongan mutasyabihat. Padahal ta'wil terhadap ayat-ayat tersebut ternyata telah dilakukan oleh sebagian sahabat seperti Abdullah bin Abbas.

Oleh karena itu selama konsep 3 pembagian tauhid ini tidak dikoreksi dan diluruskan melalui diskusi intensif yang melibatkan para ulama yang kompeten maka radikalisme tetap akan menemukan ruang subur untuk berkembang biak. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka akan muncul gesekan--gesekan di masyarakat yang bisa berujung pada konflik fisik. vonis bid'ah dan syirik yang seringkali disuarakan oleh para penceramah wahabi salafi di berbagai stasiun TV dan radio serta di berbagai media masa terhadap amaliyah mayoritas kaum mulimin di Indonesia yang noba bene memiliki basis argumentasi yang kuat adalah ekspresi dari kecenderungan radikal berakar dari konsep pembagian tiga tauhid diatas.

Oleh : Habib Miqdad Baharun (Sumber : Al ghuluw karya Sayyid Muhammad 'Alawi dan Attandi bi man'addadattauhid karya Hasan 'Ali Assaqaf)

0 comments

Post a Comment