Antara Fitnah Dan Cahaya Hati

Anak adalah harta yang tak ternilai, mereka adalah amanah Allah yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Tanpanya kehidupan sebuah keluarga seolah kehilangan makna. Lebih jauh lagi anak adalah mata rantai perjuangan dan cita cita orang tua.

Nabi Zakaria alaihis salama pernah merasa gundah tersebab kerinduannya akan belum adanya kehadiran cahaya mata baginya, yang terabadikan dalam Al Quran surat Al Anbiyaa ayat 89,
"Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik"

Lalu kerinduan Nabi Zakaria alaihissalam akhirnya terobati dengan lahirnya Nabi Yahya alaihissalam yang meneruskan risalah kenabiannya. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga memang ditunggu kehadirannya, ia akan menjadi kasih sayang orang tua, namun dibalik itu anak juga menjadi "agenda" persoalan yang tiada hasbisnya

Dari masa ke masa, masalah kehidupan anak semakin luas dan kompleks. Banyak orang tua yang merasa sedih, kecewa, resah dan menyesali sikap serta perilaku anak-anaknya

Betapa tidak? Buah hati yang mereka asuh dan sayangi sejak kecil tiba tiba menjadi sosok pembangkang. Setiap nasihat, perintah dan larangan menjadi angin lalu baginya

Saat anak beranjak remaja, tingkah lakunya seolah tak terkendali, pola pergaulannya tak tentu arah, bentuk kenakalannya berubah menjadi tindak kejahatan yang tidak hanya meresahkan orang tua tapi juga masyarakat.

Namun kenyataan sebaliknya bisa juga terjadi. Anak anak menjadi mahluk manis yang menyenangkan dan menyejukkan hati orang tuanya. Mereka patuh dan berbakti di rumah, berprestasi di sekolah dan bergaul baik dalam lingkungan masyarakat dan menjadi harapan masa depan

Islam Bertutur Tentang Anak

Islam dengan tegas menyatakan kedudukan seorang anak, ia bisa menjadi cahaya hati atau sumber fitnah bagi orang tua. Hal ini tidak lepas dari kelalaian orang tua dalam pola dan cara mendidik dan mengarahkan anak
"Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At Taghaabun : 14)

Para pendahulu kita yang shalih mempunyai keunikan tersendiri dalam mendidik anak, bagi mereka pendidikan anak itu tidak semata mata dengan sekolah saja. Ada dari mereka yang membelai kepala dan mengusap dada si anak saat mereka tidur dan dibacakan surat surat Al Quran. Ada juga yang setiap akan berangkat ke sekolah si orang tua akan menempelkan telapak tangannya di dada si anak dan di bacakan surat Alam Nasyroh

Penenkanan pendidikan anak bagi orang tua di masa lalu bukan hanya ilmu semata, tapi adab dan konsep keberkahan menjadi hal yang utama. Kalimat kalimat thayyibah menjadi hal yang besar bagi mereka daripada sekedar pandai dalam hal matematika atau ilmu pengetahuan alam.

Ini tercermin dari nasihat nasihat para shalihin kepada murid muridnya ataupun kepada anak anaknya.
"Hormatmu pada gurumu lebih baik dari pada ilmu yang kau terima darinya." Imam Syafii berkata, "mencari adab bagi seseorang adalah bagai seorang ibu mencari anaknya"

Bahkan dalam dunia pesantren dikenal ajaran fawatih atau membacakan fatihah bagi para shalihin, bagi para guru guru yang telah mengenalkan ilmu, bagi orang tuanya

Sehingga terlihat bahwa pendidikan anak yang dikedepankan adalah tentang keberkahan, adab dan menjadi manusia yang mengenal kesopanan bukan semata keilmuan. Berbeda dengan sekarang saat orang tua berlomba bagaimana mengasah kecerdasan anak.

Pemberian pendidikan bagi anak dalam pengertian orang tua modern dewasa ini adalah disekolahkan di sekolah yang terkenal, diberikan tambahan les privat bahasa Inggris, matematika dan ilmu ilmu yang menjadikan anak siap bersaing dalam pengetahuan.

Diberikan ia les piano dengan harapan terampil dalam seni dan terasah jiwanya. Ini tentu saja bertolak belakang dengan tujuan pendidikan anak dalam Islam yaitu bagaimana agar si anakn mengenal Tuhannya
Ibroh Pendidikan Para Shalihin
Sayyid Qutb
"Harapan ibu yang paling besar terhadapku adalah agar Allah berkenan membuka hatiku, hingga aku bisa menghafal alQuran dan membacanya di hadapan ibu dengan baik. Sekarang saya telah hafal Al Quran dengan demikian saya telah menunaikan sebagian harapan ibu. Dan semasa kecilku, ayahku menanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Ia tak pernah memarahikun namun kehidupan sehari-harinya telah menjadi tauladanku akan bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir"

Yusuf Qordhowi

Beliau yatim saat berusia 2 tahun, ibunya menjadikannya hidup dalam lingkungan pendidikan Qurani dan pasa usia 10 tahun beliau telah hafal Al Quran lengkap dengan penguasaan ilmu tajwidnya

Perhatikan Makanan Anakmu
Berbicara tentang harapan agar anak menjadi cahaya mata tidak hanya berbicara tentang bagaimana pendidikannya saja, akan tetapi juga harus memperhatikan apa yang mereka makan baik dari sisi baiknya yng tidak terdapat zat yang berbahaya pada makanan tersebut juga kehalalannya.

Sungguh kita harus memperhatikan darimana asal harta yang kita dapatkan. Menyepelekan asal harta tanpa berpikir panjang halal atau haram bisa mengakibatkan keburukan pada diri dan keluarga kita terutama anak anak kita.

Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan ridha dari Allah sedangkan makanan makanan yang masuk kedalam perut itu haram? Para sahabatpun dulu banyak yang perhatiannya terhadap makanan begitu besar. Sayyidina Abu Bakar memuntahkan kembali makanannya dengan susah payah karena beliau ketahui sumbernya yang syubhat.

Begitu juga ayahanda imam Syafi'i yang repot repot mencari pemiliki buah apel yang hanyut terbawa aliran sungai yang akhirnya dia makan, demi mendapatkan kehalalan dari apel tersebut

Doakan Anak Anak Kita

Menjadikan anak anak kita menjadi Qurrata'ayun membutuhkan kesungguhan dan proses yang sangat panjang. Menurut Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhu "Qurrota a'yun maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan keta'atan, sehingga dengan ketha'atannya itu membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat".

Membahagiakan itu tidak hanya bermuara pada harta benda tapi juga ketaatan anak anak kepada orang tuanya juga kemauan dan kemamuan mereka untuk mendoakan orang tuanya, terutama saat kita telah tiada.

Bagaimana mereka akan mendoakan kita jika tidak dibiasakan kepada anak anak kita sedari dini dan menjadikan tradisi dalam kehidupan mereka untuk mendoakan para leluhurnya, membacakan yasin, fatihah dan doa doa untuk para shalihin, para guru-gurunya dan khususnya orang tuanya?

Sebagai orang tua kit ajuga harus mempunyai waktu waktu khusus untuk mendoakan anak anak kita. Dan mengajarkan doa doa kepada mereka. Terpenting adalah meminta doa dari para shalih untuk anak anak kita
Wallahu 'Alam Bis Shawab,
Oleh : Abu Ufi

0 comments

Post a Comment