Berjihad Melawan Hawa Nafsu

Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kita ummat Islam adalah untaian kalimat yang artinya,
"Ya Allah, perlihatkan kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami untuk mengikutinya. Perlihatkan kebathilan sebagai kebathilan dan karuniakan kami untuk menjauhinya. Jangan jadikan kebathilan itu samar bagi kami sehingga kami memperturutkan hawa nafsu dan tersesat dari jalan-Mu."
Doa ini menunjukkan bahwa memperturutkan hawa nafsu akan membuat seseorang tersesat dari jalan yang diridhoi Allah. Karena itu dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menyaksikan sendiri kasus korupsi yang pelakunya bukan orang bodoh yang tidak berpendidikan, kasus penyalahgunaan obat-obat terlarang yang pelakunya bukan orang yang tidak mengerti bahaya obat-obatan terlarang, dan kasus-kasus kriminal lain yang terjadi bukan karena pelakunya tidak mengerti tindakannya dikategorikan tercela. Tetapi semua karena mereka gagal mengerem dorongan nafsu yang memang sulit dikendalikan, hingga mereka terperosok jatuh ke dalam lembah kehinaan

Dalam sebuah hadits shahih yang bersumber dari Abu Muhammad 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda yang artinya,
"Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai kecenderungan hatinya (hawa) mengikuti apa yang aku datang dengannya."
Menurut Dr. Mushtafa Al Bugha' dalam Al Waafi maksud hawa adalah sesuatu yang disenangi jiwa seseorang, yang menjadi kecenderungan hatinya dan yang dimotivasi oleh tabiatnya. Hawa atau seringkali disebut hawa nafsu lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif yaitu tindakan yang hanya bertujuan memuaskan selera-selera nafsu.

Makna hawa seperti inilah yang dikecam oleh syari'at Islam karena menyeret seseorang untuk membangkang kepada kebenaran dan mengabaikan rambu-rambu yang ditetapkan oleh agama Islam. Dengan demikian memperturutkan hawa nafsu adalah jalan sesat dan tercela.

Sedang maksud dari apa yang aku datang dengannya adalah ketentuan-ketentuan yang dikandung dalam syariat Allah yang sempurna. Terkait larangan memperturutkan hawa nafsu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada nabi Dawud dalam surat Shat : 26 yang artinya, 
"Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."
Ibnu Katsir menyatakan bahwa ayat ini adalah wasiat Allah kepada para pengemban kekuasaan untuk menerapkan ketentuan hukum berdasarkan kebenaran yang telah Dia turunkan. Mereka tidak boleh bergeser dari kebenaran tersebut karena hal itu mengakibatkan mereka tersesat dari jalan Allah. Allah sendiri mengancam keras siapapun yang tersesat dari jalan-Nya dan lupa terhadap hari perhitungan amal dengan siksa yang pedih

Dari uraian di atas bisa difahami bahwa memperturutkan hawa nafsu adalah akar dari segala kedurhakaan, penyimpangan dan penolakan terhadap kebenaran. Mereka yang telah dikuasai nafsu akan menjadikan apapun yang diamanatkan kepadanya sebagai alat untuk memperjuangkan interest pribadi dan kelompok pendukungnya tanpa menghiraukan norma-norma yang telah digariskan ketentuan agama yang telah digariskan ketentuan agama yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Saat hawa nafsu dipertuhankan maka tidak ada sesuatupun yang dinilai sakral. Apapun, termasuk aqidah sebagai prinsip dasar agama akan dikorbankan demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu Allah berfirman dalam Al Qashash : 50 yang artinya,
"Maka jika mereka tidak Menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Ayat ini diturunkan untuk menggambarkan bahwa pengingkaran kaum kafir Makkah kepada Rasulullah semata-mata didasari pembangkangan dan memperturutkan hawa nafsu bukan karena kebenaran Islam itu masih samar.

Untuk melepaskan diri dari tekanan hawa nafsu Allah telah menganugerahkan kepada manusia akal yang membedakannya dengan biantang. Dengan memfungsikan akal dengan semestinya manusia akan memiliki kemampuan untuk berjuang melawan tekanan hawa nafsu yang ingin memperbudaknya.

Karena dengan akal ini ia akan bisa menilai dampak jangka pendek dan panjang tindakan apapun yang ia pilih. Jika ia hanya memilih kepentingan jangka  pendek dan panjang tindakan apapun yang ia pilih.

Jika ia hanya memilih kepentingan jangka pendek duniawi tentu ia akan merasakan penderitaan tiada akhir di akhirat kelak. Sebaliknya jika ia lebih memprioritaskan kebaikan jangka panjang di akhirat maka ia akan mampu menata tindakan-tindakan yang akan dipilih di dunia agar tidak sampai membuatnya gagal meraih kebahagiaan di akhirat kelak.

Orang yang mampu menggunakan akal sehatnya untuk melawan kekuatan nafsu inilah yang dipuji oleh Rasulullah sebagai mujahid sejati yang berjuang melawan dorongan negatif. Mujahid sejati yang berjuang melawan dorongan negatif yang bersemayam dalam dirinya. 

Karena itu tidak ada cara lain bagi ummat Islam, khususnya para pemimpin mereka untuk meraih kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat kecuali dengan terus menerus berjihad tiada henti melawan dorongan hawa nafsu baik dalam bentuk kepentingan materi, sosial politik atau populraitas.

Wallahu'Alam Bisshawab

Oleh : Habib Miqdad Baharun

0 comments

Post a Comment