Merespons Emansipasi Wanita Dengan Ide Progresif

Dunia, terlebih dunia Islam terus menerus diusik dengan isu emansipasi wanita. Para penggerak emansipasi wanita sering kali menyuarakan kesamaan gender, lelaki menyamai kewanitaan sebaliknya juga demikian

Silahkan baca artikel sebelumnya yang masih berkaitan dengan tema ini tentang Hak Berpolitik dan Bekerja Bagi Perempuan


Persepsi tetang peran ibu dalam pendidikan anak semakin hari kian terkikis dengan isu emansipasi wanita. Tren yang terbangun saat ini adalah persamaan derajat antar "gender". Berawal dari persamaan hak untuk mendapatkan pendidikan, sampai pada masalah persamaan dalam pekerjaan. Paradigma ini terus berlanjut hingga mayoritas orang berpikir bahwa lebih mulia perempuan yang menjadi wanita karir dibandingkan ibu rumah tangga

Dampak Emansipasi Wanita

Buah dari keagungan emansipasi wanita telah kita rasakan sekarang, salah satunya kerusakan moral. Betapa sering kita jumpai pemberitaan-pemberitaan mengenai kenakalan remaja. Semua ini terjadi berkat terkesampingkannya waktu orang tua untuk mendidik anak akibat sibuk bekerja

Selain itu, seringkali ibu yang sibuk bekerja tidak memiliki waktu utnuk menyusui anaknya dengan Air Susu Ibu (ASI). Mereka lebih mementingkan karirnya hingga ASI pun digantikan dengan susu-susu bermerk. Padahal jelas sekali dalam surat Al-Baqarah ayat 233 Allah menganjurkan para wanita untuk menyusui anaknya secara sempurna, yaitu dua tahun. Lebih jauh lagi, dalam berbagai penelitian telah dijelaskan ASI merupakan susu dengan kualitas terbaik yang menunjang kecerdasan dan kesehatan anak. Jika ini terus terjadi, maka kualitas generasi penerus kita akan terancam

5 Fungsi Wanita

Melihat kenyataan seperti ini, seharusnya kita menyadari bahwa telah terjadi penyelewengan makna mengenai emansipasi wanita dan HAM. Isu ini tidak henti-hentinya digulirkan sebagai upaya untuk merusak generasi penerus. Terbukti hal itu berhasil dengan kerusakan moral yang terjadi saat ini. Jika kita tidak segera melakukan perubahan pola pikir maka kehancuran ummat tinggal menunggu waktu

Maka salah satu upaya untuk menyadari dan selanjutnya mengambil tindakan terhadap penyelewengan makna emansipasi wanita tersebut adalah dengan merespons isu emansipasi ini dengan ide progresif. Yaitu keseimbangan peran antara ruang privat maupun publik, hal tersebut bisa kita wujudkan dengan mengaktualisasikan dan merealisasikan fungsi wanita, fungsi tersebut ada lima macam yaitu sebagai berikut :

Fungsi Wanita Sebagai Istri

Wanita tidak hanya sekedar sebagai pasangan hidup belaka, atau sebagai perhiasan semata yang hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, namun lebih dari itu ia merupakan pendamping, tempat membagi suka dan duka, tempat bermusyawarah dalam memecahkan berbagai masalah rumit yang sedang dihadapi suaminya, serta memberikan spirit pada suami dalam mengembangkan karir

Islam telah menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan paling berharga bagi suaminya setelah beriman kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Islam menganggap isteri yang shalihah itu sebagi salah satu sebab kebahagiaan

Rasulullah bersabda,
"Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla yang lebih baik selain isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya dia taat, jika dipandang dia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya dia mengiyakan, dan jika suami pergi (jauh dari pandangan) maka dia memelihara diri dan harta suaminya"
Selanjutnya kita bisa melihat sosok figur istri yang menjadi panutan, yaitu Sayyidah Khadijah r.a. Beliau mendampingi Rasulullah selama sepermpat abad. Berbuat baik di saat Rasulullah gelisah. Menolong Rasulullah di waktu-waktu sulit.

Membantu Rasulullah dalam menyampaikan risalah dan ikut merasakan penderitaan pahit akibat tekanan dan boikot orang-orang musyrik Quraisy. Sayyidah Khadijah menolong tugas suaminya sebagai Nabi dengan jiwa dan hartanya

Rasulullah senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Sayyidah Khadijah selama hidupnya. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa itu, pantaslah jika Allah SWT menyampaikan salam lewat malaikat Jibril kepada Sayyidah Khadijah. Jibril datang kepada Nabi, lalu berkata,
"Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan." (HR. Bukhari)

Fungsi Sebagai Ibu Rumah Tangga

Sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab untuk mewujudkan keluarga yang bahagia, mendidik anak-anak sebagai kader generasi masa depan agama. Seorang istri sebagai sosok wanita yang juga berat tugas dan tanggung jawabnya ketika berhadapan dengan tugas rumah tangga mendampingi suaminya. Pantaslah ketika Rasulullah menyebut seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu tiga tingkat derajatnya lebih tinggi dibandingkan ayah. Dengan inilah bentuk Islam mengagungkan dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita
Begitu mulianya ketika seorang wanita menjadi muslimah dan umahat sejati hidup bersama merajut kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama suami tercinta. Seorang suami sebagai kepala rumah tangga tidak dapat mendominasi tugas dan fungsinya dalam rumah tangga sebaliknya juga seorang istri sebagai pendamping tidak dapat memaksakan kehendak sebagai seseorang yang paling berperan dalam rumah tangga karena kehidupan rumah tangga membutuhkan partisipasi keduanya sehingga rumah tangga menjadi harmonis

Fungsi Sebagai Pendidik (Murabby)

Sikap perilaku seorang ibu menjadi kaca/cermin dan teladan bagi anak-anak, suami dan lingkungan sekitar. Juga dalam memberi makan yang halal. Oleh sebab itu Ibu harus menjadi orang yang berkualitas dan berpotensi tinggi. Sebagaimana ungkapan syair :
"Ibu adalah ibarat sebuah sekolahan, jika dipersiapkan dapat membentuk bangsa yang baik dan kuat"
Seorang penyair al-Syauqi, seperti dikutip oleh Bustani A. Gani dan Johar Bahry menulis,
"Seorang wanita jika dewasa dalam keadaan buta huruf, maka ia akan membentuk secara herediter (melalui air susu) seorang anak laki-laki yang bodoh dan pemalas"

Sebagai Juru Dakwah

Mengajak kepada kebaikan dan menjauhi kemungkaran (amar ma'ruf nahi munkar). Firman Allah dalam surah al Nahl ayat 125 :
"Berdakwalah (ajaklah) kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan sebaik-baiknya"
Yaitu mengajak umat Islam, laki-laki dan wanita untuk aktif berdakwah sesuai kemampuan masing-masing.

Sirah Nabawiyyah dan sejarah kehidupan para sahabat ridwanullahi 'alaihim adalah teladan terbaik dalam berbagai metode para da'i dalam berdakwah, serta sumber terbesar bagi kekuatan iman dan kepekaan rasa keagamaan mereka, dan dengan teladan itu mereka menyalakan bara keimanan dan semangat keagamaan dalam hati umat.

Dari sumbangsih dakwah ini dalam periode sahabat, kita akan menjumpai murid-murid unggulan dan merupakan ilmuan Islam periode sahabat, kita akan menjumpai murid-murid unggulan dan merupakan ilmuan Islam periode pertama dari binaan apa yang didakwahkan oleh Rasulullah, Ummu Salamah, Ummu Ayyub dan Ummu Habibah

Fungsi Penggerak Sosial

Wanita mempunyai peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dan aktivis sosial. Sebagai aktivis sosial, wanita dituntut untuk mampu berperan sebagai 'pelayan' masyarakat, yang harus mengetahui secara persis segala permasalahan yang terjadi, bahkan mampu mengantisipasi kolerasi tiap-tiap masalah dengan masalah yang akan terjadi di kemudian hari

Darisinilah wanita sebagai penggerak sosial yang harus mampu berperan sebagaimana tersebut di atas sesuai dengan kodrat dan kemampuannya

Tentu dalam peran pbuliknya, wanita harus menjaga diri dari hal-hal menjerumuskan kepada kemaksiatan. Artinya, keagungan moral harus selalu dijaga oleh wanita agar terhindar dari hal-hal negatif. Ini sama sekali berbeda dengan konsep liberalisme yang menghalalkan segala cara, lepas dari ikatan agama.
Oleh : Nur Hayan Tih (Ummu Bariza)
(Staf Pengajar Play Group Lembaga Pendidikan Islam Nurul Haromain Pujon Malang)


0 comments

Post a Comment