Asyura Hari Suka Cita Atau Duka Cita ?

Banyak kalangan melontarkan pertanyaan di atas karena Imam Abdullah Alawi Al Haddad mengatakan bahwa hari 'Asyura' (10 Muharram) adalah hari berkabung atau kesedihan sebab terbunuhnya sayyidina Husain. 

Oleh karena itu apakah kita tidak perlu berpuasa pada hari tersebut karena berbahagia atas selamatnya nabi Musa? Jawabannya adalah kita perlu mengetahui bahwa Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad adalah salah satu ulama ahlussunnah wal jama'ah. tatkala beliau menyatakan bahwa

Hari 'Asyura' adalah hari berkabung maka beliau tidak melarang bersukacita pada hari tersebut karena selamatnya nabi Musa

Sebetulnya tidak ada kontradiksi antara terjadinya kesedihan dan kebahagiaan pada saat yang bresamaan seperti halnya pada hari yang sama kita berbahagia karena akan kita lahir namun pada hari itu juga nenek kita wafat yang membuat kita bersedih

Hanya saja Islam mengajarkan kita untujk mengekspresikan secara terbuka rasa syukur dan bahagia atas diperolehnya nikmat dan menyuruh untuk bersabar saat menghadapi musibah dan kesedihan dengan symbol, teriakan dan ratapan. Menjelang Rasulullah saw. meninggal dunia beliau berkata yang artinya, 

"Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian dan aku bisa saling berbicara. Dan wafatku lebih baik buat kalin. Semua amal kalian dismpaikan kepadaku. Aku memuji kepada Allah saat melihat amal baik kalian dan memohonkan ampunan kepada Allah saat melihat amal buruk kalian"

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk melihat nikmat dan merasakan hadirnya kebaikan hingga menyangkut hari wafatnya beliau yang nota bene musibah terbesar. Beliau menyatakan bahwa hidup dan wafat beliau adalah sesuatu yang terbaik buat ummatnya

Ini sesungguhnya adalah dakwah Islam yang menyerukan kedamaian, ketenangan, kegembiraan dan sikap optimis memperoleh hal positif (tafa'ul) bukan mengajarkan keluhan, ratapan atau memukuli diri sendiri tatkala menghadapi musibah serta menolak bersyukur atas segala kebiakan dengan shalat dan puasa

Seandainya Sayyidina Husain sekarang berada di tengah kita barangkali beliau akan meniru apa yang disampaikan kakeknya Rasulullah saw. Beliau pasti akan berkata kepada mereka yang merasa mendapatkan sial atas wafatnya beliau dan melukai tubuh mereka, "Hidupku lebih baik buat kalian. Aku dan kalian akan salaing menyayangi. Dan wafatku adalah hal terbaik sebab aku wafat sebagai syahid"

Ritual yang dilakukan oleh kelompok syi'ah sebagai ekspresi terbunuhnya Sayyidina Husain tidak lain merupakan symbol kepalsuan yang mengandung unsur kebusukan politik dan fitnah. Jika tidak, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama atas terbunuhnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan wafatnya Rasulullah saw. yang nota bene musibah terbesar bagi kaum muslimin

Syi'ah juga memperingati hari kelahiran rasulullah saw setiap tahun tapi tidak menyelenggarakan perkabungan pada hari tersebut padahal Rasulullah saw meninggal pada hari itu. Apakah peringatan ini kontradiksi dengan kesedihan mereka atas wafatnya beliau?

inilah ritual syiah di bulan syuro
Dari paparan di atas bisa kita simpulkan bahwa Islam itu jelas dan dakwahnya juga jelas. Siapapun yang menggunakan symbol-symbol palsu dan klaim-klaim yang menyesatkan pasti bersikap kontradiktif terhadap dirinya sendiri dan memperlihatkan bahwa teriakan yang dilakukannya sama sekali tidak memiliki kaitan apapun dengan Islam

Kajian Muharram Diterbitkan Oleh Buletin Hawariy - Watubelah Cirebon


0 comments

Post a Comment