Ziarah Kubur Dalam Islam Hukumnya ...?

Ziarah kubur bukan memberhalakan kuburan - Kalangan yang mengkategorikan melakukan perjalanan dalam rangka berziarah ke makam Rasulullah sebagai tindakan yang haram, bid'ah atau makruh seringkali berargumentasi dengan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya :
"Ya Allah, jangan engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah"

Dalam riwayat Imam Ahmad, hadits senada diriwayatkan dengan redaksi yang artinya,
"Allah mengutuk kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid"

Untuk membantah pandangan kalangan ini, terlebih dahulu harus dimengerti bahwa keberadaan kuburan beliau yang berlokasi di dalam kamar beliau sendiri yang nota bene berada dalam area masjid

http://blogkaruhun.blogspot.com/2015/05/hukum-menghadiahkan-pahala-kepada-mayit.html

adalah salah satu dari perkara yang telah disepakati para ulama besar generasi salaf shalih sejak era sahabat. Dalam sebuah hadits shahih terdapat informasi yang menunjukkan bahwa kuburan beliau terlindungi dari adanya tindakan kemusyrikan dan pemberhalaan.


ziarah kubur sunnah menurut islam


Hal ini terjadi karena beliau sendiri memohon dan berdo'a agar kuburan beliau tidak dijadikan sebagai kuburan yang disembah dan do'a beliau ini telah dikabulkan Allah

Do'a yang dipanjatkan beliau artinya adalah, 

"Ya Allah, jangan engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid"

Maksud hadits yang bernada do'a ini, berdasarkan riwayat-riwayat dari seluruh jalur sanadnya adalah larangan untuk mendatangi kuburan guna melaksanakan shalat di atasnya atau menghadapnya dengan motif untuk mengagungkan penghuni kubur atau kuburannya.

http://blogkaruhun.blogspot.com/2015/04/manfaat-amal-orang-lain.html

Karena hal ini menjadi jalan bagi ummat-ummat dahulu menuju kemusyrikan, penyembahan kuburan dan penghuninya. Rasulullah melarang hal ini semata-mata agar ummat beliau tidak mengalami apa yang dialami oleh ummat-ummat dahulu.

Allah pun telah mewujudkan harapan dan do'a beliau dengan fakta tidak ada seorangpun kaum muslimin yang mengagungkan kuburan beliau dengan cara shalat di atas atau menghadap kuburan beliau.

Hal ini tentu berbeda dengan berdoa tatkala berziarah ke makam Rasulullah yang justru disunnahkan menghadap makam beliau sebagaimana perintah Imam Malik kepada Abu Ja'far.

Terdapat informasi dari beliau yang mengisyaratkan beliau dikebumikan di lokasi di mana sekarang kuburan berada. Al Bazzar meriwayatkan dengan sanad shahih dan At Thabarani meriwayatkannya sebagai hadits marfu' yang artinya
"Lokasi antara kuburanku dan mimbarku adalah salah satu dari taman surga" 

Dengan menggunakan lafadz kubur (al qabr) sebagai ganti dari rumah (al bait). Rasulullah menyadari bahwa masjidnya yang mulia berada berdampingan dengan kuburan beliau

Beliau menetapkan keutamaan masjid tersebut dan menganjurkan kaum muslimin untuk mendatanginya. Beliau tidak menyuruh mereka untuk meninggalkan masjid tersebut atau menghancurkannya karena ada kuburan di dalamnya.


Beliau justru menegaskan bahwa shalat di masjid beliau lebih utama melebihi seribu shalat di tempat lain selain masjidil haram. Beliau juga mengkhususkan lokasi yang dekat dengan kuburan beliau hingga mimbar sebagai salah satu taman dari taman-taman surga
Dari paparan di atas, kita bisa memahami bahwa pandangan kalangan yang menyatakan berziarah ke makam orang-orang shalih untuk bertawassul adalah bentuk pemberhalaan terhadap kuburan mereka adalah pandangan yang salah. Karena bertawassul kepada orang shalih di kuburannya sama sekali bukan menyembah kepadanya atau menyembah kuburannya

Tidak benar pula pandangan yang menyatakan bahwa tidak boleh shalat di masjid yang ada kuburannya. Karena yang dilarang adalah shalat diatas kuburan tersebut atau menghadap kepada-Nya dengan niat mengagungkan kuburan tersebut
Wallahu 'Alam ... Sumber Manhajjussalaf karya Abuya Sayyid Muhammad 'Alawi

0 comments

Post a Comment